Ia menggambarkan betapa jengkel dan muaknya publik mungkin tak terkira. Tapi semua cacian dan hujatan itu tak bakal digubris oleh pemilik kekuasaan. Bisa ditebak, Eggi kini riang gembira, mungkin bergumam “Emang Gue Pikirin” dengan penuh kejumawaan.
Banjir sinetron hukum pun dimulai. Hukum jadi komoditas yang ditransaksikan. “Inilah kisah hukum di republik itu ketika sudah menjadi budak berlutut dalam kendali imperium pemilik angpao,” imbuhnya pedas.
Situasinya suram. Penghianat berkeliaran jadi penegak hukum. Di depan maupun di belakang, mereka tak malu berjualan pasal dengan harga kesepakatan. Tapi di tengah ranah para bandit itu, Sutoyo yakin masih ada pejuang sejati yang tersisa.
“Dalam situasi apa pun, petarung sejati akan terus memilih kehormatan hidupnya, bahkan ketika nasib di ujung tandu dengan segala risikonya,” ungkapnya.
Pesan penutupnya tegas dan bernada harapan. Ia menyemangati para pejuang itu untuk tak khawatir. Kebenaran, katanya, akan menapaki jalannya sendiri. Ia bahkan yakin, Jokowi sudah terdesak dan sampai kapan pun tak akan bisa menunjukkan ijazah aslinya.
“Kemenangan seorang pejuang sejati bukan pada kalah dan menang dengan standar manusia, tetapi ada pada posisi Istiqomah dengan Ridlo Allah SWT,” tutup Sutoyo Abadi.
Artikel Terkait
Keringat dan Kekuatan: Kisah Para Kuli Panggul Perempuan di Pasar Pabean Surabaya
Kejaksaan di Persimpangan: P21 atau P19 untuk Kasus Ijazah Jokowi?
Modus Palsu Catut Nama Pejabat Polda, Katering Yogya Nyaris Terkecoh
Klarifikasi yang Mengaburkan: Saat Kritikus Berbalik Memuji Kekuasaan