“Sortir pertama untuk melakukan asesmen ke lokasi, lima orang. Lalu diberangkatkan lagi 15 orang yang kedua. Sortir berikutnya akan kami berangkatkan bersama potensi yang ada, sekitar 40 orang,”
jelas Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan.
TNI AU juga turun tangan. Lima prajurit Kopasgat diterbangkan dengan heli setelah titik jatuh diperkirakan. Tugas mereka menyiapkan langkah awal evakuasi. Tak cuma lewat udara, pencarian jalur darat juga dilakukan oleh gabungan personel Lanud Sultan Hasanuddin dan pasukan Korpasgat.
Sayangnya, cuaca buruk menghambat. Pencarian udara terpaksa dihentikan sementara Minggu sore dan akan dilanjutkan esok pagi. “Kondisi cuaca yang in-out, nabrak awan keluar awan. Pencarian dari udara belum maksimal,” kata Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii.
Meski begitu, tim darat terus bekerja. Dan pada Minggu pagi (18/1), kabar baik datang. Serpihan pesawat berhasil ditemukan.
“Pukul 07.46 kami diinfokan dari kru heli bahwa telah terlihat serpihan window pesawat yang kecil. Lalu pukul 07.49, penemuan besar badan pesawat. Dicurigai sebagai badan dan ekor pesawat di lereng bagian selatan,”
kata Andi Sultan. Tim SAR kini berusaha mencapai lokasi temuan puing-puing itu.
Misi Patroli yang Berakhir Duka
Pesawat ATR 42-500 ini rupanya bukan pesawat komersial biasa. Pesawat itu disewa khusus untuk mendukung Tim Air Surveillance Ditjen PSDKP, KKP. Misi mereka saat itu adalah patroli maritim rutin, memantau illegal fishing di perairan Indonesia.
Namun misi kali ini berakhir tragis. Pesawat membawa 10 orang: 7 kru dan 3 penumpang yang semuanya adalah pegawai KKP yang sedang bertugas.
Korban jiwa dari pihak penumpang adalah Ferry Irrawan, Deden Mulyana, dan Yoga Nauval. Sementara tujuh kru pesawat terdiri dari Capt. Andy Dahananto, Yudha Mahardika, Hariadi, Franky D Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita S.
Sebuah awal tahun yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban dan segenap insan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Artikel Terkait
Serpihan Pesawat ATR Ditemukan Pendaki di Gunung Bulusaraung Usai Hilang Kontak
Kemarahan Dedi Mulyadi di Gunung Ciremai: Hutan Bukan Tempat Usaha!
Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi
Pejabat Kementerian UMKM Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Pejagan-Pemalang