Dua Pendaki Saksikan Ledakan Pesawat KKP di Lereng Bulusaraung

- Minggu, 18 Januari 2026 | 12:00 WIB
Dua Pendaki Saksikan Ledakan Pesawat KKP di Lereng Bulusaraung

Suaranya masih gemetar saat menceritakan apa yang mereka lihat. Dua pendaki itu, Reski dan Muslimin, baru saja menyaksikan sebuah pesawat meledak di Gunung Bulusaraung, Minggu siang (18/1/2026). Mereka sedang berada di puncak ketika peristiwa mencekam itu terjadi.

Sebelumnya, pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) yang terbang dari Yogyakarta ke Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros, Sulsel. Itu terjadi Sabtu siang. Pesawat lepas kontak dengan menara kontrol tak lama setelah lepas landas dari Adisutjipto.

Menurut informasi, komunikasi terputus sekitar pukul 11.23 WIB, saat pesawat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, pesawat tampaknya tidak berada pada jalur pendekatan yang benar. Petugas ATC sempat memberi arahan koreksi, tapi tiba-tiba saja komunikasi terputus sama sekali. Diduga, setelah momen hilang kontak itulah pesawat kemudian jatuh dan meledak di lereng Bulusaraung.

“Saya lihat pesawatnya dikikis itu gunung, lalu meledak dan terbakar,”

Kata Reski (20), suaranya tak stabil, mengingat detik-detik mengerikan itu. Ia dan Muslimin (18) sedang berada di puncak. Mereka sama sekali tak menyangka akan menjadi saksi sebuah tragedi.

Pesawat yang belakangan diketahui mengangkut 10 orang itu terlihat terbang rendah. Lalu, dalam sekejap, menghantam lereng gunung di hadapan mereka. Suara ledakan keras langsung menyusul.

“Sekitar jam 1 siang,” lanjut Reski.

Mereka mengaku hanya berjarak sekitar 100 meter dari lokasi tumbukan. Kaget dan ketakutan, mereka sempat terpaku. Api membesar dan serpihan logam berhamburan ke mana-mana.

“Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” tuturnya.

Tapi mereka tak sempat merekam video kejadiannya. Semuanya berlangsung terlalu cepat. “Cepat sekali,” ujar Reski, yang merupakan alumni sebuah pondok pesantren di Wajo.

Setelah ledakan mereda, Reski mendokumentasikan puing-puing yang berserakan. Di antara serpihan badan pesawat, terlihat juga dokumen dan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka memutuskan segera turun gunung setelah kejadian, membawa kabar buruk itu ke bawah.

Pencarian Dimulai

Begitu laporan hilang kontak diterima, Basarnas Makassar langsung bergerak. Titik koordinat terakhir dari AirNav menjadi sasaran pertama. Tiga regu SAR segera diterjunkan untuk pengecekan awal.


Halaman:

Komentar