Isu tentang transparansi anggaran kembali mencuat di Jawa Barat. Kali ini, pemicunya justru datang dari sebuah kejadian yang memilikan: seorang pedagang telur di Garut dilaporkan ke polisi. Apa pasal? Ia mengkritik kondisi jalan di desanya yang rusak parah.
Holis Muhlisin, nama pedagang itu, hanya menyuarakan keluhan warga. Alih-alih mendapat respons perbaikan, ia malah mendapat intimidasi. Kabar ini menyebar di media sosial dan tentu saja memantik kemarahan banyak netizen.
Gelombang protes itu rupanya sampai juga ke meja Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Menurut sejumlah saksi, ia geram dengan tindakan jajarannya yang justru membungkus kritik dengan ancaman. Tak mau berlama-lama, Dedi pun mengambil langkah tegas.
Ia mendesak semua jajarannya, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, untuk terbuka. Caranya? Dengan mengeluarkan Surat Edaran yang mewajibkan transparansi penuh anggaran di media sosial.
Kebijakan baru ini rencananya mulai berlaku 5 Januari 2026 nanti. Intinya sederhana: tidak ada lagi yang boleh ditutup-tutupi. Setiap rupiah uang rakyat yang dikelola harus bisa dilacak publik, lewat platform seperti YouTube, Facebook, atau Instagram.
"Uang yang kita kelola adalah uang rakyat," tegas Dedi Mulyadi dalam sebuah pernyataan.
"Maka, pembangunan yang berkeadilan hanya bisa terwujud jika dilakukan secara terbuka, transparan, dan akuntabel," imbuhnya.
Langkahnya tak berhenti di situ. Setiap instansi juga diwajibkan mengunggah laporan kinerja bulanan ke media sosial. Tujuannya jelas: memberi ruang bagi rakyat untuk menilai. Apakah pemimpin di daerahnya benar-benar bekerja atau hanya omong kosong.
Sebelum surat edaran itu resmi terbit, Dedi sudah lebih dulu memberi peringatan keras. Ia meminta semua pejabat di bawahnya untuk membuka diri terhadap kritik. Intimidasi, ancaman, itu sama sekali tidak dibenarkan.
"Jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman dalam dunia yang sudah terbuka," ujar Dedi lewat akun Instagramnya.
"Kalau ada warga yang menceritakan jeleknya pembangunan, terima dengan lapang dada," tandasnya.
Peringatan itu jelas bukan tanpa alasan. Kasus Holis si pedagang telur adalah contoh nyata yang, sayangnya, masih terjadi. Sekarang, tinggal menunggu apakah janji transparansi ini betul-betul dijalankan, atau hanya akan jadi wacana lagi.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor