“Penyakit ini dikenal mematikan karena perkembangannya sangat cepat dan sulit ditangani,”
tambahnya. Kecepatan perkembangan virus itu yang bikin ngeri, menyulitkan tim medis untuk bereaksi. Alhasil, tingkat keselamatan anak gajah yang sudah terinfeksi memang sangat kecil.
Di sisi lain, BBKSDA Riau ingin menenangkan publik. Virus EEHV ini hanya menular antar sesama gajah. Tidak ada risiko penularan ke manusia atau jenis hewan lainnya.
Ceritanya begini: begitu Laila menunjukkan tanda-tanda tidak aktif, protokol medis langsung dijalankan. Namun, kondisinya terus saja memburuk dengan cepat. Perlawanan itu sia-sia.
BBKSDA Riau menyatakan duka yang mendalam. Kejadian ini jadi pengingat pahit betapa rentannya satwa dilindungi seperti gajah Sumatera terhadap ancaman penyakit. Kasus Laila menyoroti kerentanan ekstra pada anak gajah terhadap serangan EEHV.
Kedepan, fokus pada perlindungan dan pemantauan kesehatan tentu harus lebih ketat. BBKSDA Riau menegaskan komitmennya untuk konservasi, dengan janji meningkatkan pencegahan dan pengawasan. Informasi ini mereka sampaikan untuk memberikan kejelasan, sekaligus menghindari simpang siur soal penyebab kematian Laila yang malang itu.
Artikel Terkait
Wagub Sulbar Salim S Mengga Wafat, Pemimpin Rendah Hati yang Baru Setahun Bertugas
Dedi Mulyadi Murka, Pedagang Es Gabus Viral Ketahuan Bohong Soal Kontrakan
Bayar Utang Berujung Maut: Bocah 6 Tahun Tewas Dibunuh Tetangga di Boyolali
Dari Tuduhan Racun hingga Impian Mobil: Kisah Pedagang Es Gabus yang Viral