Bentrokan Berdarah di Tambang Emas Ketapang, WNA Serang Personel TNI

- Senin, 15 Desember 2025 | 14:25 WIB
Bentrokan Berdarah di Tambang Emas Ketapang, WNA Serang Personel TNI

Suasana di area tambang emas PT Sultan Rafli Mandiri di Ketapang, Kalimantan Barat, yang biasanya ramai dengan aktivitas operasional, mendadak berubah ricuh Minggu sore kemarin. Insiden itu melibatkan sejumlah warga negara asing dan berujung pada penyerangan terhadap personel TNI.

Menurut Kapolres Ketapang, AKBP Muhammad Harris, semuanya berlangsung sekitar pukul empat kurang dua puluh menit sore. “Sampai saat ini tidak ada korban jiwa dan situasi tetap aman serta kondusif,” tegas Harris saat dikonfirmasi Senin (15/12). Meski begitu, lima anggota TNI menjadi sasaran serangan. Dua kendaraan operasional perusahaan juga rusak parah.

Harris menyebut, proses klarifikasi masih berjalan. Polisi mendalami keterangan dari berbagai pihak yang terkait. Di sisi lain, koordinasi dengan Imigrasi juga digeber untuk menindaklanjuti status para WNA yang diduga terlibat.

“Sementara kami masih melakukan proses klarifikasi dengan pihak-pihak terkait. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan pihak Imigrasi untuk menindaklanjuti pendataan terhadap WNA yang diduga melakukan penyerangan,” ujarnya.

Langkah pengamanan awal sudah dilakukan oleh personel Polsek Tumbang Titi. Situasi di lokasi tambang kini dilaporkan sudah bisa dikendalikan.

Cerita soal awal mula insiden ini datang dari pihak perusahaan. Imran Kurniawan, Chief Security PT SRM, mengungkapkan pemicunya adalah sebuah drone.

Ia bercerita, petugas keamanan mendeteksi ada aktivitas penerbangan drone tak dikenal di sekitar area tambang sekitar pukul 15.30 WIB. Lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya yang kebetulan sedang latihan di lokasi, turut membantu mengejar operatornya.

“Total ada enam orang yang mengejar pilot drone, satu dari pengamanan sipil dan lima anggota TNI,” jelas Imran.

Tak jauh dari pintu masuk, sekitar 300 meter, mereka menemukan empat WNA yang diduga mengendalikan drone itu. Namun begitu, situasi langsung berbalik panas. Sebelas WNA lainnya tiba-tiba muncul dan langsung melancarkan serangan.

“Para WN China itu membawa empat bilah senjata tajam, air gun, serta alat setrum, lalu menyerang anggota kami,” kata Imran.

Kalah jumlah dan untuk mencegah bentrokan yang lebih buruk, petugas pengamanan dan anggota TNI memilih mundur ke dalam area perusahaan. Akibat keributan itu, satu mobil dan satu sepeda motor milik perusahaan hancur. Pihak perusahaan sudah mengamankan satu bilah senjata tajam sebagai barang bukti dan berkoordinasi dengan polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar