Tito Janji Kawal Pemulihan Lahan Pertanian dan Tambak di Sumatera Pascabencana

- Selasa, 17 Maret 2026 | 20:05 WIB
Tito Janji Kawal Pemulihan Lahan Pertanian dan Tambak di Sumatera Pascabencana

Pemulihan lahan pertanian dan tambak udang di Sumatera pascabencana bakal jadi prioritas utama. Muhammad Tito Karnavian, yang mengepalai Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, menegaskan komitmennya untuk mengawal langsung proses ini. Ia berjanji tak akan lepas tangan.

“Pasti saya kawal,” tegas Tito, menutup pembicaraan.

Janji itu disampaikannya usai menghadiri Rapat Koordinasi Pengawakan Program Strategis Presiden di Kantor Kemenhan, Jakarta, Selasa (17/3). Menurutnya, upaya mengembalikan produktivitas lahan yang rusak adalah pekerjaan besar. Butuh koordinasi solid antar kementerian. Untuk itu, Tito mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian. Tujuannya satu: mempercepat penanganan.

Berdasarkan pemetaan yang sudah dilakukan, kondisi lahan ternyata beragam. Ada yang masih bisa langsung ditanami. Di sisi lain, banyak juga yang kondisinya parah tertimbun material seperti batu dan kayu bekas terjangan bencana. Lahan jenis terakhir ini jelas butuh pembersihan ekstra sebelum bisa kembali hijau.

“Itu harus di-apa namanya itu, dibersihkan,” ujar Tito. “Namanya program cetak sawah baru. Meskipun sawah ini sawah lama, tapi anggarannya, anggaran cetak sawah baru.”

Soal waktu pengerjaan, Tito menyebut itu sangat tergantung pada luas wilayah yang terdampak. Namun, ia memberi sinyal bahwa prosesnya akan segera digenjot. Dalam keterangan tertulisnya di hari yang sama, Tito menyebut aksi nyata akan dimulai setelah Lebaran.

“Dan akan dilaksanakan setelah Lebaran mereka akan langsung genjot. Untuk membantu tambak-tambak yang terendam lumpur untuk bisa dihidupkan kembali,” jelasnya.

Harapannya, dengan pengawalan ketat dan koordinasi yang lancar, sawah dan tambak di Sumatera itu bisa segera berdenyut lagi. Menghidupi para petani dan nelayan yang menggantungkan nasib pada sejengkal tanah dan air.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar