Widodo Cahyono Putro Resmi Latih PSIS, Isyaratkan Reuni dengan Arhan dan Dewangga demi Target Promosi

- Rabu, 20 Mei 2026 | 19:30 WIB
Widodo Cahyono Putro Resmi Latih PSIS, Isyaratkan Reuni dengan Arhan dan Dewangga demi Target Promosi

Penunjukan Widodo Cahyono Putro sebagai pelatih baru PSIS Semarang bukanlah sekadar rotasi teknis biasa di tubuh manajemen. Di balik keputusan tersebut, tersirat sinyal kuat bahwa Mahesa Jenar tengah merancang transformasi besar untuk membangun ulang identitas tim dengan satu target mutlak: promosi kembali ke Liga Super musim depan. Legenda hidup sepak bola Indonesia itu dipercaya penuh untuk menentukan komposisi skuad, sebuah kewenangan yang langsung memicu spekulasi mengenai kemungkinan pulangnya dua pemain Timnas Indonesia yang pernah menjadi simbol kebangkitan klub, Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga.

Kedua nama itu bukanlah figur asing bagi publik Semarang. Arhan pernah menjelma menjadi idola baru suporter Panser Biru berkat gaya bermain agresif dan lemparan ke dalam mematikannya sebelum akhirnya menempuh karier di luar negeri. Sementara itu, Dewangga tumbuh menjadi salah satu bek muda paling fleksibel di Indonesia berkat kemampuannya bermain di berbagai posisi. Kini, ketika PSIS memulai era baru bersama Widodo, pintu reuni itu perlahan terasa terbuka.

Apalagi Widodo dikenal sebagai pelatih yang sangat memahami pentingnya fondasi lokal dan kimia tim. Dalam proyek promosi seperti Championship, pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kehadiran pemain bintang, melainkan juga identitas permainan dan kedekatan emosional dengan klub. Faktor inilah yang membuat rumor kepulangan Arhan dan Dewangga terasa masuk akal.

Widodo sendiri langsung bergerak cepat setelah resmi diperkenalkan pada perayaan ulang tahun ke-93 PSIS, 18 Mei lalu. Ia mengaku telah menyerahkan beberapa nama pemain incaran kepada manajemen. “Kami mempercayakan tim musim depan untuk diarsiteki oleh Widodo Cahyono Putro,” ujar Asisten Manajer PSIS, Moch Reza Handhika.

Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Widodo memiliki rekam jejak promosi yang sangat kuat. Sebelum membawa Garudayaksa menjadi juara Championship 2025/2026, ia juga sukses mengantarkan Persita Tangerang dan Persijap Jepara naik kasta. Kini, tantangan yang lebih besar menunggunya di Semarang. Widodo tidak hanya dituntut membangun tim yang kompetitif, tetapi juga menghidupkan kembali kepercayaan publik setelah PSIS terdegradasi.

Karena itu, kehadiran figur-figur seperti Arhan dan Dewangga bisa menjadi simbol kebangkitan sekaligus daya tarik emosional bagi suporter. Terlebih, keduanya masih memiliki keterikatan kuat dengan PSIS. Arhan selama ini selalu identik dengan Semarang meskipun kariernya sempat berlanjut ke luar negeri dan kompetisi Asia Tenggara. Sementara Dewangga merupakan produk yang tumbuh bersama identitas permainan Mahesa Jenar sebelum berkembang menjadi pemain Timnas Indonesia. Jika keduanya benar-benar kembali, PSIS bukan hanya mendapat tambahan kualitas teknis, tetapi juga karakter pemimpin di ruang ganti.

Namun, tantangan terbesar tentu ada pada aspek finansial dan ambisi karier pemain. Arhan dan Dewangga masih berada dalam radar klub-klub kasta tertinggi, bahkan peluang bermain di luar negeri tetap terbuka. Karena itu, proyek yang ditawarkan Widodo dan manajemen PSIS harus benar-benar meyakinkan. Satu hal mulai terlihat jelas: PSIS tidak ingin sekadar numpang lewat di Championship. Dengan memberi kewenangan penuh kepada Widodo, Mahesa Jenar tampaknya sedang membangun proyek serius untuk segera kembali ke panggung utama sepak bola Indonesia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar