Presiden Taiwan Nyatakan Siap Beli Senjata dari AS Jika Bisa Bertemu Langsung Trump

- Rabu, 20 Mei 2026 | 20:15 WIB
Presiden Taiwan Nyatakan Siap Beli Senjata dari AS Jika Bisa Bertemu Langsung Trump

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menyatakan keinginannya untuk melanjutkan pembelian sistem persenjataan dari Amerika Serikat jika diberi kesempatan berdialog langsung dengan Presiden AS, Donald Trump. Bagi Lai, pengadaan alutsista dari Washington merupakan langkah krusial untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Selat Taiwan.

Pernyataan itu disampaikan Lai pada Rabu, 20 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan dua tahun masa kepemimpinannya. Momen tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Tiongkok yang secara konsisten menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri. Dalam pernyataannya, Lai menekankan bahwa stabilitas di Selat Taiwan bukan hanya kepentingan regional, melainkan juga vital bagi keamanan global.

“Menurut saya, pembelian senjata dari AS merupakan cara penting untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan,” ujar Lai. Ia menambahkan, “Saya percaya hanya kekuatan yang bisa membawa perdamaian.” Lai juga menuduh Tiongkok sebagai pihak yang merusak perdamaian di kawasan dan menegaskan bahwa demokrasi serta kebebasan tidak boleh dianggap sebagai bentuk provokasi.

Di sisi lain, pernyataan Trump belakangan ini memunculkan kekhawatiran di Taipei. Meskipun AS tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, komitmen tradisional Washington terhadap keamanan pulau tersebut dianggap mulai goyah. Lai berharap Taiwan dapat memperluas kerja sama tidak hanya dengan AS, tetapi juga dengan negara-negara demokratis lain dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Sementara itu, Tiongkok bereaksi keras terhadap pernyataan Lai. Pekan lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuannya dengan Trump di Beijing memperingatkan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling sensitif dalam hubungan bilateral dan berpotensi memicu konflik jika tidak ditangani dengan hati-hati. Peringatan itu muncul setelah Trump menyetujui paket senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan pada Desember lalu.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan menyebutkan bahwa persetujuan paket senjata baru senilai 14 miliar dolar AS untuk Taiwan akan bergantung pada dinamika hubungan dengan Tiongkok. Trump menyebut paket tersebut sebagai “alat negosiasi yang sangat baik.” Ia juga menyatakan perlunya berbicara langsung dengan pihak yang memimpin Taiwan, tanpa menyebut nama Lai, yang oleh Beijing dianggap sebagai tokoh separatis.

Menanggapi hal itu, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Tiongkok, Zhu Fenglian, menuduh Lai menyebarkan “kebohongan dan konfrontasi” terkait perubahan status quo di Selat Taiwan. Zhu menilai Lai terus mendorong agenda kemerdekaan Taiwan dan memicu ketegangan lintas selat. “(Lai) adalah perusak status quo di Selat Taiwan,” kata Zhu seperti dikutip media setempat.

Dalam pidatonya, Lai menegaskan bahwa demokrasi bukanlah “hadiah dari langit.” Ia menyatakan masa depan Taiwan tidak dapat ditentukan oleh kekuatan eksternal, juga tidak boleh dibajak oleh ketakutan, perpecahan, atau kepentingan jangka pendek. Lai juga mengatakan Taiwan tetap terbuka untuk pertukaran yang sehat dan teratur dengan Tiongkok berdasarkan prinsip kesetaraan dan martabat, namun menolak upaya yang “membungkus unifikasi sebagai perdamaian.”

Di luar isu geopolitik, Lai juga mengumumkan rencana senilai 3,1 miliar dolar AS untuk mempercepat transformasi usaha kecil dan menengah serta industri tradisional Taiwan melalui dukungan sektor teknologi. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat daya tahan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian keamanan regional.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini