Melihat ketekunan dan keberanian putranya, Sudarmono pun mengambil langkah lebih serius. Ia meracik sebuah motor bebek khusus untuk Veda. Dan pada 2016, saat Veda menginjak usia delapan tahun, babak latihan intensif pun dimulai. Tiga kali seminggu, di Pasar Hewan Siyono, mereka berdua berlatih.
“Umur 8 tahun sudah saya latih balapan menggunakan motor bebek. Kali pertama Veda menginjak aspal di Pasar Sapi Siyono,” cerita Sudarmono.
Lahan pasar itu disulap menjadi sirkuit simulasi. Dengan ban-ban mobil bekas, Sudarmono membuat rute berkelok penuh tantangan. Tikungan tajam sengaja ia ciptakan, kadang di tempat yang tak terduga, bahkan di jalur lurus sekalipun. Tujuannya satu: mengasah refleks dan ketangkasan Veda.
Latihan keras selama setahun penuh di tempat itu akhirnya membuahkan hasil. Veda, di usia sembilan tahun, berhasil masuk program penjenjangan resmi di bawah Honda. Kariernya melesat. Usia 11 tahun ia sudah masuk kelas nasional, dan di usia 12 tahun, ia menyandang gelar juara nasional.
“Iya balapan road race, motor bebek itu,” ujar Sudarmono sambil mengenang masa-masa awal kompetisi tersebut.
Kini, semua kerja keras dan keringat yang tertumpah di Pasar Sapi itu terbayar sudah. Fondasi yang kokoh itulah yang membawa Veda Ega Pratama berdiri gagah di podium Moto3 Brasil, meraih tempat ketiga. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari debu dan semangat di sebuah pasar sapi.
Artikel Terkait
Pengusaha Beri Mobil Rp 500 Juta untuk Veda Ega Usai Podium di Moto3 Brasil
Masa Depan Arne Slot Dipertanyakan Usai Liverpool Tumbang dari Brighton
PSG Minta Penundaan Laga Kontra Lens, Kontroversi Jadwal Kembali Mencuat
Chelsea Siap Tawar €40 Juta untuk Bek AC Milan, Strahinja Pavlovic