Dari Pasar Sapi ke Podium Moto3: Perjalanan Veda Ega Pratama

- Selasa, 24 Maret 2026 | 15:30 WIB
Dari Pasar Sapi ke Podium Moto3: Perjalanan Veda Ega Pratama

JAKARTA – Tepuk tangan gemuruh menggema di Sirkuit Interlagos, Brasil. Veda Ega Pratama baru saja meraih podium ketiga Moto3, sebuah pencapaian yang membanggakan. Tapi kisahnya tidak dimulai di sirkuit mewah berstandar dunia. Semua berawal dari sebuah tempat yang jauh dari bayangan glamor: Pasar Sapi Siyono di Gunungkidul. Di sanalah, di antara debu jalanan dan bau khas ternak, bakat seorang calon juara dunia pertama kali diasah.

Sudarmono, ayah sekaligus pelatih Veda yang kini berusia 40 tahun, mengakui dengan jujur. Latar belakang keluarga mereka bukanlah dari fasilitas serba wah. “Dari Pasar Sapi Veda lahir sebagai pembalap,” ujarnya. “Sekarang dia sudah balapan di kelas internasional.”

Semuanya berawal dari sebuah motor GP mini. Saat Veda masih empat tahun, Sudarmono yang juga seorang pembalap mulai memperkenalkan dunia otomotif pada putranya. Rupanya, ketertarikan itu langsung terlihat. Tak lama kemudian, Sudarmono membawa Veda kecil ke Alun-Alun Wonosari untuk belajar dasar-dasar mengendarai motor.

“Veda naik motor GP mini muter-muter di Alun-Alun Wonosari,” kenang Sudarmono.

Keputusan membelikan motor itu tentu punya maksud. Sebagai seorang profesional di lintasan, Sudarmono penasaran, apakah bakatnya akan menurun. Dan ternyata, dugaan itu benar. “Ya, darah seorang pembalap juga mengalir di Veda,” katanya.

Sebelum akhirnya mencium aspal di Pasar Sapi, Veda lebih dulu ditempa di jalur tanah. Di usia enam tahun, ia sudah ikut balapan motor cross kelas kecil. Hanya dalam setahun, pembalap asal Wareng ini berhasil mengoleksi berbagai gelar juara. Mentalnya mulai terbentuk.

“Berlanjut terus balapan motor cross sampai umur 7 tahun, mental pembalapnya sudah terbentuk,” tutur Sudarmono.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar