Sementara Veda merayakan keberhasilan, ada wajah kecewa di garasi lain. Brian Uriarte, pembalap andalan Red Bull KTM Ajo, justru mengalami hari yang sulit. Dia juga mengganti ban setelah red flag, memilih ban soft seperti Veda. Tapi hasilnya jauh dari harapan.
“Sebenarnya sebelum bendera merah, setup kita sudah nyaman,” keluh Uriarte. “Lalu semuanya berubah. Untuk start kedua, kami putuskan ganti ban dengan harapan bisa langsung ngebut. Fokus kami berganti, bukan lagi menang, tapi sekadar mengamankan poin.”
Sayangnya, strategi itu tidak berjalan mulus. Performa motornya sepertinya tidak klop dengan pilihan ban baru. Alih-alih mengejar podium, Uriarte malah tersingkir dari persaingan di barisan depan. Dia akhirnya harus puas finish di posisi ke-11, jauh di belakang Veda.
“Ya, strategi ban itu krusial,” tambahnya dengan nada kecewa. “Kalau tepat, bisa bikin percaya diri dan bawa kita ke seri berikutnya dengan pikiran lebih tenang.”
Ini bukan kali pertama Uriarte kalah dari Veda. Di Thailand sebelumnya, dia juga finis di belakang pembalap Indonesia itu. Ironisnya, status Uriarte adalah juara Red Bull Rookies Cup 2025, sedangkan Veda ‘hanya’ runner-up di ajang yang sama. Tapi di dunia balap, gelar masa lalu tak menjamin apa-apa. Yang berbicara adalah keputusan tepat di saat kritis.
Jadi, begitulah kisahnya. Satu momen bendera merah, dua keputusan tim, dan dua nasib yang berlawanan. Untuk Veda, itu adalah keputusan brilian yang membawanya ke podium. Bagi Uriarte, itu menjadi langkah yang justru menjerumuskannya. Balap memang begitu. Ketepatan memilih waktu, bahkan untuk hal sekecil mengganti ban, bisa mengubah segalanya dalam sekejap.
Artikel Terkait
Nathan Tjoe-A-On Dituding Sengaja Kena Kartu Kuning demi Timnas Indonesia
Veda Ega Pratama Jadi Harapan Asia di Papan Atas Klasemen Moto3 2026
Sancho Dipastikan Tinggalkan MU, Dortmund Jadi Tujuan Utama
Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 121 FIFA, Malaysia Anjlok ke Posisi 135