Di Surabaya, ambisi Persebaya tak pernah setengah hati. Klub dengan julukan "Bajul Ijo" ini sedang merancang sesuatu yang serius. Bukan cuma untuk bertahan, tapi untuk kembali jadi penggede di persaingan sepak bola nasional.
Musim baru belum mulai, tapi denyut nadi di belakang layar sudah berdetak kencang. Bernardo Tavares, pelatih asal Portugal, jadi pusat perbincangan. Dia punya rekam jejak membangun tim yang solid, seperti yang dulu dia lakukan bersama PSM Makassar. Kini, ada bayangan ingin mengulang kesuksesan itu di Surabaya.
Isu yang beredar punya bobot lebih dari sekadar rumor transfer biasa. Ada narasi besar di baliknya: kemungkinan lahirnya semacam "PSM versi mini" di kandang Persebaya.
Dua nama yang mencuat cukup menarik perhatian. Pertama, Ramadhan Sananta. Striker muda yang kini bersinar di DPMM FC Malaysia ini sudah jadi bagian penting dari masa depan Timnas Indonesia. Bagi Persebaya, dia bukan cuma target biasa. Sananta dianggap sebagai solusi atas masalah klasik yang terus menghantui: kurangnya gol.
Paruh musim lalu jadi buktinya. Lini depan Bajul Ijo sering mandek, bahkan di momen-momen genting. Usaha mendatangkan penyerang baru sempat dilakukan, tapi mentok. Sananta, yang waktu itu jadi incaran, memilih bertahan. Sebuah keputusan yang wajar secara profesional.
Tapi sepak bola selalu punya babak kedua. Kontrak Sananta yang berakhir 30 Juni 2026 membuka peluang lebih realistis. Kalau negosiasi lancar, Persebaya bisa mendapatkannya tanpa biaya transfer sebuah keuntungan strategis di tengah ketatnya persaingan finansial Liga 1.
Nama kedua adalah Victor Dethan. Winger muda milik PSM ini adalah buah dari proyek jangka panjang Tavares di Makassar. Dia bukan cuma pemain cepat di sayap, tapi juga simbol kepercayaan pelatih pada bibit muda. Debutnya melawan Bali United pada Juli 2022 jadi titik awal, dan sejak itu dia perlahan cari tempatnya.
Sekarang, situasinya di ujung tanduk. Kontraknya dengan PSM habis pada Mei 2026, dan ketidakpastian itu membuka pintu bagi klub lain. Persebaya, dengan hubungan langsung ke Tavares, ada di posisi terdepan.
Kalau Sananta adalah jawaban untuk masalah segera, Dethan lebih seperti investasi jangka menengah. Keduanya punya benang merah yang sama: mereka paham filosofi permainan Tavares.
Di sepak bola modern, adaptasi pemain sering jadi penentu sukses atau gagalnya sebuah transfer. Pemain yang sudah kenal sistem pelatih biasanya lebih cepat nyambung. Di sinilah strategi Persebaya terlihat punya pola, bukan asal gebuk.
Membangun "mini PSM" bukan berarti menjiplak mentah-mentah. Ini lebih pada upaya menanamkan DNA permainan intensitas, disiplin, efisiensi ke dalam konteks baru di Surabaya.
Artikel Terkait
FIFA Tolak Sanksi untuk Israel, Abaikan Putusan dan Kritik ICJ
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Raih Podium Perdana Indonesia di Moto3 Brasil
Veda Ega Ungguli Rival Rookie di Dua Seri Pembuka Moto3 2026
PSM Makassar Dihukum FIFA Larangan Transfer Tiga Bursa Beruntun