“FIFA dan UEFA melanggar hukum internasional dengan membiarkan Israel terus berkompetisi. Ini pelanggaran mencolok terhadap prinsip-prinsip hukum, yang mencakup genosida, apartheid, dan pendudukan,” tegas Dugard.
Hubungan Rumit di Balik Layar
Kontroversi ini makin rumit kalau melihat hubungan FIFA dengan pihak-pihak tertentu. Presiden FIFA, Gianni Infantino, punya kedekatan dengan mantan Presiden AS Donald Trump, sekutu kuat Israel. Bahkan, pada Desember 2025, Infantino memberikan Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Trump. Padahal, rekam jejak Trump di sepak bola hampir tidak ada.
Faktor lain adalah Piala Dunia 2026 yang akan dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini tentu menambah dimensi politik dalam perdebatan yang sudah panas.
Lalu, Apa Langkah Selanjutnya?
Kini, sorotan beralih ke badan hukum Swiss. Mereka punya peran penting dalam penegakan prinsip hukum internasional dan berada di bawah tekanan untuk meninjau keputusan FIFA. Banyak yang berharap ada pemeriksaan mendalam. Sejauh mana FIFA bertanggung jawab atas keputusan yang berbenturan dengan Mahkamah Internasional?
Keputusan ini bukan cuma urusan aktivis. Ia menciptakan preseden berbahaya yang bisa mempengaruhi kebijakan terhadap negara-negara lain di masa depan. FIFA akan bertahan dengan kebijakan ini, atau justru ada perubahan besar yang menggeliat? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Persebaya Incar Ramadhan Sananta dan Victor Dethan untuk Proyek Ambisius Bernardo Tavares
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Raih Podium Perdana Indonesia di Moto3 Brasil
Veda Ega Ungguli Rival Rookie di Dua Seri Pembuka Moto3 2026
PSM Makassar Dihukum FIFA Larangan Transfer Tiga Bursa Beruntun