Makassar - Langit Timur Tengah kembali gelap oleh awan konflik. Kali ini, pemicunya adalah peringatan keras dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyoroti ancaman Amerika Serikat terhadap fasilitas energi negaranya. Ketegangan, rupanya, belum juga mereda.
Pada Minggu (22/3), Ghalibaf bersuara lantang. Ia menegaskan, infrastruktur minyak dan energi di kawasan itu bisa mengalami kehancuran parah bahkan mungkin tak bisa diperbaiki lagi jika AS benar-benar nekat menyerang pembangkit listrik Iran. Pernyataannya ini bukan datang dari vacuum. Ini adalah respons langsung.
Respons terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya memberi ultimatum 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz. "Kami akan menghantam dan memusnahkan," begitu kira-kira kata Trump soal pembangkit listrik Iran.
Ghalibaf tak tinggal diam. Melalui platform X, ia menulis dengan nada tegas: setiap serangan yang ditujukan ke Iran akan mengubah infrastruktur vital dan fasilitas energi di seluruh kawasan Timur Tengah menjadi "sasaran yang sah".
Ia juga mengingatkan, eskalasi bodoh seperti ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang berkepanjangan. Peringatan yang sama sebenarnya sudah bergaum lebih dulu dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Mereka menyebut balasan untuk serangan energi Iran akan menyasar fasilitas energi, TI, hingga pabrik desalinasi air milik AS dan Israel di Asia Barat.
Narasi mengerikan juga pernah diungkap Ali Larijani, mantan pejabat tinggi Iran. Dalam unggahan 12 Maret sebelum ia dilaporkan tewas dalam serangan gabungan ia menggambarkan skenario suram: penghancuran kapasitas listrik Iran bisa melemparkan kawasan ke dalam kegelapan hanya dalam waktu setengah jam.
Semua ini berawal dari serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Serangan itu dikabarkan menewaskan sejumlah nama besar, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei, plus beberapa komandan militer dan warga sipil. Iran pun tak mau dipukul tanpa jawaban.
Mereka melancarkan serangan balasan besar-besaran. Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim, gelombang serangan ke-73 mereka telah menyebabkan lebih dari 200 orang tewas dan terluka di Israel. Sasaran mereka beragam, mulai dari fasilitas militer, pusat keamanan di kota-kota seperti Arad, Dimona, hingga Eilat.
Bahkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab juga kena. Tak cuma itu, militer Iran juga disebut menyerang Bandar Udara Ben Gurion menggunakan drone Arash-2 buatan lokal, seperti dilaporkan kantor berita resmi IRNA.
Dengan situasi seperti ini, kekhawatiran global pun meluas. Fokusnya bukan cuma pada konflik itu sendiri, tapi pada stabilitas pasokan energi dunia. Jika minyak terganggu, gejolak harga di pasar internasional bisa jadi konsekuensi berikutnya yang harus ditanggung semua orang.
Artikel Terkait
Iran Tuding AS Serang Kapal Tanker di Selat Hormuz, Pasukan Garda Revolusi Balas Tembak
Pimpinan Ponpes di Lahat Diduga Cabuli Empat Santriwati, Warga Geruduk Lokasi Desak Polisi Turun Tangan
PT Simone Batang Investasi Rp429 Miliar di KEK Industropolis, Target Serap 6.000 Tenaga Kerja
Trump dan Von der Leyen Sepakat Tolak Ambisi Nuklir Iran di Tengah Negosiasi Tarif AS-UE