Makassar - Langit Timur Tengah kembali gelap oleh awan konflik. Kali ini, pemicunya adalah peringatan keras dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyoroti ancaman Amerika Serikat terhadap fasilitas energi negaranya. Ketegangan, rupanya, belum juga mereda.
Pada Minggu (22/3), Ghalibaf bersuara lantang. Ia menegaskan, infrastruktur minyak dan energi di kawasan itu bisa mengalami kehancuran parah bahkan mungkin tak bisa diperbaiki lagi jika AS benar-benar nekat menyerang pembangkit listrik Iran. Pernyataannya ini bukan datang dari vacuum. Ini adalah respons langsung.
Respons terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya memberi ultimatum 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz. "Kami akan menghantam dan memusnahkan," begitu kira-kira kata Trump soal pembangkit listrik Iran.
Ghalibaf tak tinggal diam. Melalui platform X, ia menulis dengan nada tegas: setiap serangan yang ditujukan ke Iran akan mengubah infrastruktur vital dan fasilitas energi di seluruh kawasan Timur Tengah menjadi "sasaran yang sah".
Ia juga mengingatkan, eskalasi bodoh seperti ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang berkepanjangan. Peringatan yang sama sebenarnya sudah bergaum lebih dulu dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Mereka menyebut balasan untuk serangan energi Iran akan menyasar fasilitas energi, TI, hingga pabrik desalinasi air milik AS dan Israel di Asia Barat.
Artikel Terkait
Trump Klaim Buka Dialog dengan Tokoh Iran, Ancam Lanjutkan Serangan Bom
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Segala Permusuhan, Sebut Perang Modern sebagai Skandal
Polri Prediksi Dua Gelombang Puncak Arus Balik Lebaran, One Way Nasional Diberlakukan
KPK Alihkan Status Tahanan Yaqut Cholil Qoumas dari Rumah ke Rutan