"Kita hadir di sini bukan untuk nonton bola. Tugas kita adalah mengamankan. Kalau sudah diterima tugas, tanggung jawab harus diletakkan di depan," ujar Mochtar, suaranya keras dan tegas di hadapan anak buahnya.
Dia menegaskan, laporan ancaman di ruang transit itu benar adanya. Itu adalah kegagalan sistem pengamanan internal stadion.
Menurutnya, para steward harus paham betul job description mereka. Tidak ada ruang untuk main-main atau setengah hati.
"Kalian harus tahu persis tugas kalian saat di dalam stadion, jangan main-main," pungkasnya. Nada itu jelas sebuah teguran keras, sekaligus peringatan untuk ke depannya.
Diawasi Ketat Hingga ke Hotel
Berdasarkan pantauan di lokasi, akhirnya wasit dan timnya bisa keluar dari stadion dengan selamat. Tapi prosesnya tidak mudah. Mereka dikawal ketat oleh aparat, dikelilingi formasi pengamanan berlapis, sebelum akhirnya dibawa mobil menuju hotel penginapan.
Pengawalan intensif itu terus berlanjut. Semua untuk memastikan tidak ada lagi gangguan atau teror yang mengancam keselamatan mereka.
Sampai saat ini, sayangnya, panitia penyelenggara dari Malut United masih bungkam. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan terkait insiden memalukan di stadion kebanggaan mereka itu. Semuanya masih ditutup-tutupi, seolah hanya angin lalu. Padahal, kejadian seperti ini bisa jadi catatan buruk bagi sepak bola kita.
Artikel Terkait
Persebaya Dibantai Borneo FC 1-5, Isu Rekrut Ramadhan Sananta Menguat
PSM Makassar Bangkit dari Ketertinggalan, Imbang 3-3 Lawan Malut United
Intimidasi terhadap Wartawan dan Wasit Warnai Laga Malut United vs PSM di Ternate
Wasit FIFA Jadi Sasaran Pukulan Suporter Usai Laga Seru Malut United vs PSM