“Percaya pada kemampuan sendiri,” katanya. Ia mendorong para pemain untuk membawa kualitas latihan ke lapangan hijau, dan selalu mengingat identitas klub yang mereka pikul. Latihan harus seintens pertandingan, dan sebaliknya. Tapi ada satu hal lain yang ia tekankan, sesuatu yang sering terlupakan: kebanggaan.
Rasa bangga mengenakan jersey merah marun itu, kata Ahmad, adalah energi tak terukur. Tim yang bangga pada identitasnya akan selalu punya cara untuk bertarung lebih keras.
Di sisi lain, ia juga menanggapi pernyataan Malut United yang menyebut PSM sebagai tim kuat dan berpengalaman.
“Kami hargai pernyataan itu,” ucapnya. Respek dari lawan adalah bagian dari sportivitas. Tapi ia tak menampik realita: PSM sedang melalui masa sulit. Hasil-hasil akhir pekan terakhir membuktikan performa mereka belum stabil.
Meski demikian, pandangannya tidak pesimis. Dari pinggir lapangan latihan, ia melihat sendiri betapa keras para pemain berusaha. Kerja keras itu adalah tanda bahwa semangat untuk keluar dari lubang hitam ini masih menyala. Sepak bola punya siklus yang cepat; tim yang hari ini terpuruk bisa menemukan momentum hanya dalam satu malam.
Ia berharap masa-masa kelam ini segera berlalu. Kuncinya, lebih dari sekadar strategi atau susunan pemain, adalah mental pemenang. Itu yang harus kembali muncul.
Artikel Terkait
PSSI Buka Peluang Comeback Elkan Baggott ke Timnas di Era Herdman
Ganda Muda Indonesia Sikat Unggulan Ketiga Dunia di Perempat Final All England
Susi Susanti Prihatin dan Soroti Pentingnya Perlindungan Atlet dari Kekerasan
Real Madrid Kehilangan Tiga Pemain Kunci Jelang Jadwal Padat Akibat Sanksi Disiplin