PSM malah tercecer di papan tengah bawah, tepatnya di posisi ke-13 dengan 23 poin. Jarak mereka dengan zona merah sangat tipis, cuma lima poin dari PSBS Biak. Situasinya jadi makin runyam melihat catatan mutakhir: tak menang dalam tujuh laga terakhir, dengan lima di antaranya adalah kekalahan beruntun.
Performanya di bawah Trucha memang belum menggembirakan. Dari 15 laga, cuma 14 poin yang berhasil dikumpulkan. Kemenangan cuma empat, imbang dua, sisanya sembilan kekalahan.
Dalam kondisi seperti ini, posisi pelatih selalu yang paling pertama jadi sasaran. Muhammad Nur Fajrin, Manajer PSM, mengaku evaluasi internal sedang berjalan. Mereka bahkan sudah berdiskusi intens selama dua hari terakhir. Tapi keputusan final belum diambil.
Masih ada satu ujian terakhir, satu kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Laga tandang melawan Malut United di Stadion Kie Raha, Ternate, Sabtu nanti, akan jadi penentu nasib Trucha. Pertandingan itu bukan cuma soal poin, tapi mungkin juga soal apakah ia masih punya masa depan di klub.
Sepak bola modern seringkali kejam. Momentum bisa lebih berarti dari rencana matang. Satu kemenangan bisa mengamankan kursi, satu kekalahan bisa mengakhiri segalanya. Nasib Dejan Antonic di Padang adalah bukti nyata.
Kini, di tengah hiruk-pikuk kompetisi, satu pertanyaan menggantung: apakah ini baru awal dari gelombang pemecatan pelatih lainnya di Liga Super?
Kita tunggu saja jawabannya. Sebab dalam dunia ini, ketika hasil tak kunjung datang, waktu adalah barang mewah yang tak dimiliki setiap pelatih.
Artikel Terkait
DallIgna: Marquez Hanya Tersandung Nasib Buruk di Thailand
Suporter PSM Makassar Desak Evaluasi Pelatih Usai 11 Laga Tanpa Kemenangan
Kekalahan PSM Picu Kerusuhan Suporter, Rombakan Besar Kepelatihan Menguat
Gerrard dan Carragher Desak Slot Jadikan Ngumoha Starter Gantikan Gakpo