PSM Makassar Krisis Gol di Liga 1, Ancaman Degradasi Mengintai di Tengah Pembangunan Stadion Untia

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:00 WIB
PSM Makassar Krisis Gol di Liga 1, Ancaman Degradasi Mengintai di Tengah Pembangunan Stadion Untia

Mimpi Megah di Atas Tanah Seluas 23 Hektare

Di tengah kegelisahan itu, proyek Stadion Untia justru melaju kencang. Sejak dilantik awal 2025, Wali Kota Munafri Arifuddin dan wakilnya, Aliyah Mustika Ilham, menjadikan pembangunan infrastruktur ini sebagai prioritas. Kawasan di Untia, Biringkanaya, sedang disulap.

Sepanjang tahun lalu, 19 bidang tanah sudah disertifikatkan dengan total luas 7,7 hektare. Nilai asetnya fantastis, lebih dari Rp111 miliar. Rencana besarnya, kompleks stadion modern itu akan menghampar di lahan seluas 23 hektare. Sebuah simbol kemewahan dan ambisi untuk klub sebesar PSM.

Tapi di sinilah ironinya. Stadion megah takkan berarti apa-apa jika tim yang menghuninya terdegradasi. Saat ini, PSM seperti tim yang kehilangan jati diri. Mereka tidak jelek-jelek amat, tapi juga tidak cukup tajam untuk menang. Kondisi 'separuh jalan' ini justru berbahaya, karena masalahnya samar dan solusinya pun jadi kabur.

Lawan Waktu yang Semakin Garang

Liga tidak pernah memberi waktu lama untuk berbenah. Setiap pekan adalah tekanan baru, setiap kekalahan mendekatkan pada jurang.

Tomas Trucha berusaha tetap optimis. "Selalu ada pertandingan berikutnya," katanya mencoba menenangkan.

Namun, kata-kata itu terasa seperti mantra yang mulai kehilangan kekuatannya. Realitas di lapangan bicara lebih keras: kesempatan untuk bangkit benar-benar terbatas.

PSM kini berdiri di persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, mimpi akan rumah baru sedang dibangun dengan kokoh. Di sisi lain, mereka harus berjuang mati-matian agar masih layak menempati rumah itu saat selesai nanti.

Jika tren ini tak berbalik, sejarah mungkin akan mencatat ironi paling pahit untuk Juku Eja: memiliki masa depan yang gemilang, tapi kehilangan tanah tempat berpijak hari ini. Dan dalam sepak bola, seperti dalam hidup, bangkit terlambat seringkali berarti tidak bangkit sama sekali.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar