MAKASSAR Ada dua cerita yang sedang ditulis PSM Makassar. Yang pertama, gemuruh mesin proyek Stadion Untia yang terus menggali fondasi masa depan. Yang kedua, adalah sunyi di dalam gawang lawan sebuah krisis ketajaman yang perlahan menggerogoti nyawa tim di Liga 1. Dua narasi ini berjalan beriringan, tapi arahnya terasa saling bertolak belakang.
Rabu malam di Surabaya, 25 Februari lalu, menjadi potret paling jelas dari masalah ini. PSM tumbang lagi, kali ini dari Persebaya dengan skor tipis 0-1. Bukan kekalahan telak, justru itulah yang bikin frustasi.
Pelatih Tomas Trucha tampak lelah di ruang konferensi pers. Suaranya datar, tapi muatannya berat.
"Kami selalu kalah tipis. Ini sangat menyakitkan," ujarnya.
Statistik mungkin tak sepenuhnya jahat. Tim menciptakan 40 peluang masuk ke kotak penalti dan melepaskan 12 tembakan. Tapi angka-angka itu jadi tak berarti. "Kami harus menciptakan peluang bersih dan menyelesaikannya menjadi gol," tambah Trucha. Itulah teka-teki yang belum terpecahkan: bagaimana caranya mengubah dominasi jadi tiga poin?
Reaksi yang Selalu Terlambat
Luka Cumic, salah satu penggerak tim, mengakui ada yang salah dengan mentalitas. Menurutnya, PSM kerap seperti baru tersadar setelah kebobolan. Energi di babak pertama seringkali datar, baru meledak saat situasi sudah sulit.
"Kami baru bereaksi ketika keadaan sudah terlambat," beber Cumic.
Pola itu terulang. Dalam sepuluh laga terakhir, cuma satu kemenangan yang bisa direngkuh. Krisisnya halus, tidak terletak pada pertahanan yang bobol berkali-kali, tapi pada detail-detail kecil: keputusan split-second di depan gawang yang salah, atau sentuhan akhir yang selalu kurang greget.
Manajemen sebenarnya sudah bergerak. Mereka mendatangkan pemain baru untuk memperdalam skuad dan memberi opsi taktik lebih banyak. Secara teori, tim ini lebih seimbang. Tapi di lapangan? Hasilnya belum juga muncul. Setiap pertandingan terasa seperti perjuangan melawan kutukan yang sama: bermain cukup baik, tapi pulang dengan tangan hampa.
Dan ancaman degradasi, yang dulu cuma jadi lelucon gelap di antara suporter, kini mulai terdengar serius. Klasemen tidak berbohong, waktu pun terus menipis.
Artikel Terkait
Persebaya Hadapi Ujian Ketajaman Lini Depan Saat Jamu Persib
Dua Wakil Indonesia Gagal Melangkah ke Final German Open 2026
Tavares Hadapi Bayangan Rekor Buruk Lawan Hodak di Duel Persebaya vs Persib
PSM Makassar Terperosok dalam Krisis Performa Usai Kalah Lagi dari Persebaya