Akibat kekalahan itu, Persebaya kini tertahan di posisi kelima klasemen dengan 35 poin. Secara matematis, peluang masih terbuka. Tapi secara psikologis, tekanan mulai terasa nyata. Suasanya makin tegang.
Di kalangan Bonek, diskusi berkembang lebih jauh. Banyak yang mulai mendesak pelatih Bernardo Tavares untuk mencari kompetitor serius buat Ernando. Nama kiper PSM Makassar, Reza Arya Pratama, bahkan mulai disebut-sebut sebagai opsi ideal. Figur yang dianggap bisa bawa persaingan sehat sekaligus naikin standar performa di bawah mistar.
Seruan dari suporter ini menunjukkan satu hal. Mereka nggak cuma menuntut perubahan hasil jangka pendek, tapi perubahan struktur tim untuk jangka panjang.
Harus diakui, sepak bola modern jarang kasih ruang buat ketergantungan pada satu individu. Tim juara biasanya dibangun dari kedalaman skuad dan kompetisi internal yang sehat. Tanpa itu, performa gampang banget stagnan.
Persebaya sekarang ada di persimpangan musim. Mereka masih cukup dekat dengan papan atas untuk bermimpi. Tapi di sisi lain, mereka juga cukup rentan untuk tergelincir lebih dalam.
Di balik semua evaluasi teknis itu, satu pertanyaan terus menggema. Apa masalah Persebaya sebenarnya ada di Ernando Ari? Atau justru ada pada sistem yang membuatnya harus bekerja terlalu sendirian?
Jawabannya mungkin akan menentukan arah Green Force hingga peluit panjang musim ini berbunyi.
Artikel Terkait
PSIS Janjikan Bonus Spesial untuk Kemenangan Krusial di Kandang Persiba Balikpapan
Undian Liga Champions Bentuk Dua Jalur Berbeda: Jalan Tol dan Kubu Neraka
Persebaya Raih Kemenangan Penting, Tantangan Berat Lawan Persib Menanti
Drawing Liga Champions: Manchester City Vs Real Madrid Jadi Duel Utama Babak 16 Besar