PSIS Semarang Berbenah, Alfredo Vera Dikabarkan Jadi Arsitek Baru

- Minggu, 01 Februari 2026 | 23:30 WIB
PSIS Semarang Berbenah, Alfredo Vera Dikabarkan Jadi Arsitek Baru

SEMARANG Akhir kerjasama dengan Jafri Sastra bukan cuma soal ganti pelatih. Ini pengakuan. PSIS, sepertinya, benar-benar kehilangan arah. Tekanan degradasi dan performa yang terus merosot memaksa manajemen Laskar Mahesa Jenar bergerak. Kini, kabarnya, mereka sedang menyiapkan sosok Alfredo Vera untuk menata ulang segalanya.

Nama pelatih asal Argentina itu menguat sebagai calon direktur teknik. Posisi strategis itu sendiri sudah jadi isyarat: PSIS ingin ubah pendekatan. Bukan sekadar cari pelatih dadakan buat memadamkan api, tapi membangun fondasi dari nol lagi.

Dan situasinya memang darurat. PSIS sekarang nangkring di peringkat 9 Grup Timur Championship. Zona yang rawan, mengintai ancaman jatuh ke Liga 3. Alarm paling keras berbunyi setelah dua kekalahan telak di kandang sendiri: 0-3 dari Deltras FC dan Kendal Tornado.

Masalahnya bukan cuma kalah. Tapi cara kalahnya yang bikin geram. Pertahanan berantakan, koordinasi amburadul, kesalahan individu yang terus berulang. PSIS tampak seperti tim tanpa identitas. Kritik dari suporter pun mengalir deras, dengan duet Otavio Dutra dan Simanca jadi sasaran utama. Mereka dianggap gagal memberi rasa aman di jantung pertahanan.

Dalam kondisi begini, PSIS butuh lebih dari motivator. Mereka butuh seorang arsitek.

Nah, Alfredo Vera ini sosok yang paham betul soal kekacauan. Namanya bukan barang baru di sepak bola Indonesia. Ia datang membawa rekam jejak panjang, dibangun dari bawah sebagai pemain dulu. Dulu, ia dikenal sebagai bek tangguh yang pernah membela Persekabpas Pasuruan, PSAP Sigli, hingga PSS Sleman.

Pengalaman main di berbagai daerah itu memberinya satu kelebihan: pemahaman mendalam soal karakter sepak bola lokal. Yang keras, emosional, dan penuh tekanan di luar lapangan.

Karier kepelatihannya juga mencerminkan kemampuan adaptasi yang kuat. Dari Persela, Gresik United, sampai Borneo FC U-21. Puncaknya di Indonesia Soccer Championship A 2016, saat ia bawa Persipura Jayapura jadi juara. Itu bukti ia bisa menangani tim besar dengan tekanan tinggi.

Tak lama setelah itu, ia kembali sukses membawa Persebaya Surabaya promosi ke Liga 1 usai menjuarai Liga 2 2017.


Halaman:

Komentar