Pola kariernya dalam sepuluh tahun terakhir menarik. Vera kerap muncul di klub-klub yang sedang krisis. Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, Persita Tangerang, hingga RANS Nusantara. Ia bahkan sempat merasai tantangan di Kelantan FA, Malaysia. Terakhir, ia menangani Madura United di awal 2025.
Polanya jelas: Vera ini spesialis tim bermasalah. Bukan pelatih untuk proyek jangka panjang yang penuh romantisme. Ia lebih seperti manajer krisis figur yang dipanggil saat fondasi goyah dan waktu hampir habis.
Dan itulah yang membuat namanya sangat relevan dengan kondisi PSIS sekarang.
Kalau rumor soal posisi direktur teknik ini benar, maka PSIS sedang kirim sinyal kuat. Masalah mereka sistemik, bukan cuma di bangku pelatih. Peran sebagai direktur teknik akan memberi ruang bagi Vera untuk bekerja lebih luas: menata filosofi bermain, mengevaluasi skuad, memperbaiki koordinasi antar lini. Latar belakangnya sebagai bek juga memberi harapan khusus untuk sektor yang paling bermasalah: pertahanan.
Suporter Semarang jelas berharap lebih. Mereka ingin PSIS kembali jadi tim yang disiplin dan solid. Tim yang sulit dikalahkan, bahkan saat kalah sekalipun.
Tapi semua masih dalam bayang-bayang rumor. Hingga detik ini, manajemen PSIS belum buka suara secara resmi. Kabar itu masih menggantung, jadi bahan obrolan suporter yang lelah dengan ketidakpastian.
Namun begitu, satu hal yang pasti: waktu tak banyak. Setiap laga di Championship adalah pertaruhan eksistensi. Mendatangkan Alfredo Vera, jika benar terjadi, bukan sekadar penunjukan baru. Itu taruhan besar untuk menyelamatkan martabat Laskar Mahesa Jenar.
Beranikah PSIS melangkah keluar dari zona rumor? Jawabannya segera akan terlihat di Semarang.
Artikel Terkait
Flare dari Tribun Inter Lukai Kiper Audero di Tengah Kemenangan 2-0 atas Cremonese
Solanke Cetak Gol Kalajengking, Spurs Paksa Manchester City Berbagi Poin
Penalti Gagal, Como Gagal Tundukkan Atalanta yang 10 Pemain
Drama Injury Time, Manchester United Selamatkan Tiga Poin di Old Trafford