Lantas, apa yang mendasari kekhawatiran ini? Banyak. Menurut sejumlah pengamat, sikap ekspansionis Trump terhadap Greenland, larangan perjalanan yang diskriminatif, plus cara agresif menangani migran dan demonstran di kota-kota seperti Minneapolis, menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi komunitas sepak bola global.
Di sisi lain, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan konkret. Dua minggu lalu, rencana suporter dari Senegal dan Pantai Gading dua negara Afrika yang lolos Piala Dunia langsung kacau balau. Pemerintahan Trump tiba-tiba mengumumkan larangan yang praktis memblokir mereka, kecuali sudah punya visa sebelumnya. Alasan yang dikemukakan adalah “kekurangan penyaringan dan pemeriksaan”.
Tak hanya itu. Penggemar dari Iran dan Haiti yang juga lolos ke putaran final ternyata termasuk dalam larangan perjalanan tahap pertama yang dikeluarkan pemerintah AS. Mereka pun kemungkinan besar tak bisa menyaksikan timnya langsung.
Suara kritis juga datang dari internal dunia sepak bola. Oke Göttlich, salah satu wakil presiden federasi sepak bola Jerman, dalam wawancara dengan Hamburger Morgenpost mengaku sudah waktunya boikot dipertimbangkan secara serius.
Jadi, apakah Piala Dunia 2026 akan berlangsung dengan tribun-tribun yang sepi dari suporter internasional? Masih terlalu dini untuk mengatakan iya. Tapi satu hal jelas: desakan untuk memboikot bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Ia mulai mendapat sambutan, bahkan dari orang-orang yang pernah berada di puncak kekuasaan sepak bola dunia.
Artikel Terkait
Shayne Pattynama Siap Jadi Mesin Assist Persija di Liga 1
Manchester United Siapkan Rp 4,8 Triliun untuk Gantikan Casemiro
Persija Berburu Ricky Kambuaya, Balasan Emoji Gelandang Timnas Bikin Jakmania Berharap
Carragher Soroti Kekhawatiran Nyata Liverpool di Liga Premier