Kini, ia tak perlu lagi punya beban ‘bertahan demi klub’. Ia dibayar untuk bekerja maksimal, dan itu yang dilakukannya.
Kedewasaan perspektif semacam itu biasanya lahir dari lingkungan kerja yang sehat.
Angka-angkanya pun mendukung. 29 intersepsi, 20 sapuan bersih, 12 tekel sukses. Mereka hanya melakukan 7 pelanggaran dan mendapat 1 kartu kuning. Agresif, tapi tetap terkendali. Ditambah 5 penyelamatan kiper yang menjaga gawang tak kebobolan. Ini kemenangan yang sistematis, bukan sekadar luapan emosi sesaat.
Dan di balik sistem yang rapi itu, ada seorang pelatih yang akhirnya bisa berkonsentrasi penuh, tanpa diganggu distraksi administratif yang melelahkan.
Kisah Tavares ini sebenarnya adalah cermin bagi sepak bola Indonesia. Ia menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika pelatih berkualitas ditempatkan dalam ekosistem yang profesional. Di Makassar dulu, ia bertahan dengan idealisme. Di Surabaya sekarang, ia berkembang berkat dukungan struktural. Intinya, ini soal kelas pengelolaan.
Jika konsistensi seperti ini dipertahankan, dan penyelesaian akhir terus diasah, Persebaya bukan cuma pesaing papan atas. Mereka sedang membangun fondasi sebagai kandidat juara yang serius.
Dan untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Bernardo Tavares terlihat benar-benar menikmati detik-detik sebagai pelatih sepak bola. Itu hal yang sederhana, tapi berarti segalanya.
Artikel Terkait
Persib Buka Suara Soal Isu Investasi Rp1,5 Triliun dari Jerman
Persib Kejar Gelar, Persebaya dan PSM Berjuang di Jalur Berbeda Jelang Akhir Musim
Juventus Incar Emiliano Martinez, Kiper Aston Villa, untuk Perkuat Mistar Gawang
PSM Makassar Kembali Dihukum FIFA, Dilarang Transfer Tiga Periode