Persib Pilih Kurzawa, Bukan Ramos: Keputusan Tepat Guna di Atas Sensasi

- Senin, 26 Januari 2026 | 17:30 WIB
Persib Pilih Kurzawa, Bukan Ramos: Keputusan Tepat Guna di Atas Sensasi

BANDUNG Sergio Ramos. Namanya saja sudah bikin gempar. Legenda hidup, mental juara, ikon sepak bola abad ini. Tapi sepak bola profesional itu bukan cerita dongeng. Ini soal kecocokan, kebutuhan nyata, dan konteks yang tepat. Nah, dalam realitas itulah langkah Persib Bandung justru terlihat sangat masuk akal. Alih-alih mengejar sensasi sebesar Ramos, mereka memilih Layvin Kurzawa.

Minggu malam itu, Stadion Gelora Bandung Lautan Api masih bergemuruh. Usai kemenangan tipis 1-0 atas PSBS Biak, ribuan Bobotoh disuguhi pengumuman resmi: Kurzawa, mantan bek Paris Saint-Germain itu, resmi bergabung. Kontraknya berdurasi hingga akhir musim Super League 2025/2026, dengan opsi perpanjangan. Bagi yang jeli, ini jelas sinyal. Rekrutmen ini berbasis kebutuhan, bukan sekadar mengejar pamor.

Mari kita lihat faktanya. Secara reputasi, Ramos memang di atas. Tapi justru di situlah persoalannya. Ia adalah center back murni yang sudah berusia 39 tahun. Fisik dan ritme permainannya jelas sudah berbeda. Apakah itu cocok dengan tempo kompetisi Indonesia dan Asia Tenggara? Rasanya berat.

Persib saat ini tidak sedang mencari monumen, sesuatu yang hanya jadi simbol kejayaan masa lalu. Mereka butuh pemain yang bisa langsung mengisi celah di lapangan hijau.

Hal itu ditegaskan oleh Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan.

“Rekomendasinya datang dari tim pelatih. Kurzawa kami datangkan untuk menambah kedalaman skuad di posisi yang biasa dia isi: bek kiri, sayap kiri, dan bek tengah,” ujarnya.

Kata kuncinya ada di situ: fleksibilitas.

Dan fleksibilitas itulah yang membuat Kurzawa jadi jawaban atas beberapa masalah sekaligus. Dia bukan cuma bek kiri biasa. Profilnya sebagai pemain multiperan sangat krusial untuk Persib yang akan menghadapi dualitas kompetisi, Super League dan ACL 2.

Bayangkan. Dia bisa berperan sebagai bek kiri dalam formasi empat pertahanan, menjadi wing-back ganas jika skema berubah jadi tiga bek, atau bahkan turun membantu pertahanan tengah sisi kiri saat tim tertekan. Di tengah jadwal padat yang menuntut rotasi, kemampuan adaptasi seperti ini sangat berharga.


Halaman:

Komentar