Persebaya bermain sangat klinis. Coba lihat angkanya: dari 12 tembakan, 6 diantaranya tepat sasaran. Nilai expected goals (xG) mereka mencapai 2,7. Artinya, hampir setiap peluang yang mereka ciptakan punya kualitas tinggi dan berbahaya.
Pertahanan juga solid. Tim kolektif banget. Ada 29 intersep dan 20 sapuan berhasil dilakukan, membuat PSIM kesulitan membangun serangan. Rekor disiplin juga terjaga, cuma 7 pelanggaran sepanjang 90 menit.
Rahasia di Balik Ketangguhan Persebaya
Kemenangan ini bukan kebetulan. Ada korelasi jelas antara kebijakan manajemen dan performa lapangan.
Dalam sepakbola profesional, kepastian hak pemain adalah fondasi. Dengan gaji lancar, beban pikiran di luar lapangan hilang. Pemain seperti Bruno Moreira dan kawan-kawan bisa menyerap skema rumit Tavares dengan kepala jernih.
Taktiknya sendiri sederhana: Tavares tak peduli soal penguasaan bola. Dia lebih mengutamakan disiplin posisi dan permainan cepat. Timnya menarik lawan, lalu menghajar balik lewat transisi kilat. Skema ini persis yang dulu sukses di PSM Makassar, dan kini membuat PSIM kelimpungan.
Kedatangan Bruno Paraiba dan Jefferson Silva yang langsung berkontribusi juga jadi sinyal penting. Manajemen dan pelatih satu visi. Pemain yang didatangkan adalah tipe "siap pakai" dan cocok dengan skema permainan cepat.
Efeknya, persaingan di dalam skuad jadi sehat. Setiap pemain, tua atau baru, merasa punya kesempatan sama. Intensitas permainan pun terjaga hingga peluit panjang berbunyi.
Artikel Terkait
Wenger Soroti Kekurangan Arsenal Usai Tumbang dari United
PSM Makassar Siapkan Kejutan: Luka Cumic Tiba-tiba Didaftarkan
Siapa yang Akan Jadi Tangan Kanan John Herdman di Timnas Indonesia?
Borneo FC Siapkan Senjata Baru dari Argentina untuk Gempur Persib