"Mungkin kaget dengan bolanya mereka. Kami cukup telat mengantisipasi," akunya.
Tapi momentum berbalik. Dari ketertinggalan itu, mereka pelan-pelan bangkit. Bukan cuma sekadar mengejar, tapi juga mulai membaca setiap skema dan gerakan lawan. "Untungnya dari 6-0 kita langsung bisa setidaknya mepet-mepetin poinnya lah," sambung Joaquin.
Lambat laun, antisipasi terhadap pukulan-pukulan Sabar/Reza mulai bekerja. Perlawanan mereka jadi lebih terukur.
"Kami juga sudah antisipasi pukulan-pukulan mereka. Dan ya puji Tuhan itu berjalan dengan lancar maupun dari set satu sampai ke set kedua," tutupnya.
Kini, tantangan terbesar menanti. Di final yang digelar Minggu (25/1) ini, Raymond/Joaquin akan berhadapan dengan wakil Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. Arena tetap sama: Istora yang legendaris. Suasana pasti akan berbeda, lebih mencekam, tapi juga lebih menggugah. Apakah duo muda Indonesia ini bisa menyempurnakan perjalanan epik mereka dengan gelar juara? Semua mata akan tertuju ke sana.
Artikel Terkait
Luka Cumic Tiba Diam-diam, PSM Makassar Pasang Harapan di Nomor 99
Dua Harapan Indonesia Berebut Gelar di Final Indonesia Masters 2026
Hodak Ingatkan Persib: Waspadai PSBS Biak yang Bisa Sangat Berbahaya
Liverpool Tersungkur Dramatis di Kandang Bournemouth