“Persebaya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan perjuangan selama ini bersama Green Force. Semoga beruntung dan doa terbaik rek,” bunyi pernyataan itu.
Lantas, mengapa hanya Pedro Matos yang didatangkan? Rupanya, rekam jejak pemain berusia 27 tahun itu dinilai cocok dengan kebutuhan tim. Sebelumnya, ia tampil cukup meyakinkan bersama Semen Padang FC, dengan catatan 15 penampilan, satu gol, dan empat assist. Latar belakang kariernya di Eropa, terutama di beberapa klub Portugal seperti SC Praiense dan AD Sanjoanense, juga jadi pertimbangan matang.
Perombakan skuad ini terjadi di saat yang cukup krusial. Persebaya baru saja menutup putaran pertama dengan duduk di peringkat ketujuh klasemen, mengumpulkan 28 poin dari 17 laga. Posisi itu tentu belum ideal. Dan tantangan di putaran kedua langsung datang berat.
Minggu depan, mereka harus bertandang ke markas PSIM Yogyakarta. Laga di Stadion Sultan Agung, Bantul itu bakal jadi ujian pertama bagi efektivitas skuad ramping Persebaya. Apalagi, PSIM sendiri saat ini berada satu strip di atas mereka dengan 30 poin. Pertarungan di papan tengah ini pasti akan seru. Semua mata akan tertuju, apakah strategi efisiensi ini bisa membawa Green Force melesat, atau justru membuat mereka terjebak.
Artikel Terkait
Marmoush dan Semenyo Bawa City Permalukan Wolves di Etihad
Herdman Soroti Keuntungan Strategis Pemain Diaspora di Super League
Como Hajar Torino 6-0 dan Geser Juventus dari Posisi Kelasemen
Bernardo Tavares: Dari Bayangan Mourinho ke Mimpi Guardiola di Persebaya