SURABAYA – Jelang putaran kedua Super League 2025-2026, Persebaya Surabaya mengambil langkah tegas: efisiensi. Alih-alih melakukan gebyar transfer, manajemen justru merampingkan skuadnya. Mereka hanya mendatangkan satu wajah baru, sementara enam pemain lainnya dilepas. Langkah ini jelas menandai pergeseran strategi. Fokusnya bukan lagi menimbun pemain, melainkan menajamkan peran yang ada dan menyeimbangkan komposisi tim.
Satu-satunya rekrutan anyar itu adalah Pedro Matos, pemain asal Brasil. Klub secara resmi memperkenalkannya lewat unggahan video di akun media sosial @officialpersebaya. Dalam video singkat itu, Matos sudah terlihat nyaman dengan jersey hijau khas Persebaya. Ia bahkan tampak berdampingan dengan Risto Mitrevski di ruang ganti, seolah proses adaptasinya sudah berjalan.
Tak lupa, ia menyapa para pendukung setia. Pesannya singkat tapi penuh semangat.
“Sampai jumpa di GBT pada satu Februari. Salam satu nyali, wani,” ujar Matos.
Namun begitu, kedatangan Matos ini ibarat setetes air di tengah gelombang perampingan. Persebaya secara bersamaan melepas enam pemain sekaligus. Nama-nama seperti Diego Mauricio, Dejan Tumbas, hingga penjaga gawang Rendy Oscario, resmi berpisah dengan Green Force. Keputusan ini diumumkan lewat Instagram resmi klub, lengkap dengan ucapan terima kasih.
“Persebaya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan perjuangan selama ini bersama Green Force. Semoga beruntung dan doa terbaik rek,” bunyi pernyataan itu.
Lantas, mengapa hanya Pedro Matos yang didatangkan? Rupanya, rekam jejak pemain berusia 27 tahun itu dinilai cocok dengan kebutuhan tim. Sebelumnya, ia tampil cukup meyakinkan bersama Semen Padang FC, dengan catatan 15 penampilan, satu gol, dan empat assist. Latar belakang kariernya di Eropa, terutama di beberapa klub Portugal seperti SC Praiense dan AD Sanjoanense, juga jadi pertimbangan matang.
Perombakan skuad ini terjadi di saat yang cukup krusial. Persebaya baru saja menutup putaran pertama dengan duduk di peringkat ketujuh klasemen, mengumpulkan 28 poin dari 17 laga. Posisi itu tentu belum ideal. Dan tantangan di putaran kedua langsung datang berat.
Minggu depan, mereka harus bertandang ke markas PSIM Yogyakarta. Laga di Stadion Sultan Agung, Bantul itu bakal jadi ujian pertama bagi efektivitas skuad ramping Persebaya. Apalagi, PSIM sendiri saat ini berada satu strip di atas mereka dengan 30 poin. Pertarungan di papan tengah ini pasti akan seru. Semua mata akan tertuju, apakah strategi efisiensi ini bisa membawa Green Force melesat, atau justru membuat mereka terjebak.
Artikel Terkait
PSM Makassar Tampil dengan Lini Belakang Terlengkap saat Hadapi Bali United
Timnas Indonesia Uji Kekuatan Lawan Oman di FIFA Matchday Jelang Piala AFF 2026
Tiga Pemain Persib, Thom Haye, Marc Klok, dan Saddil Ramdani, Dipanggil Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026
Veda Ega Pratama Start ke-17 Usai Crash di Kualifikasi Moto3 Spanyol