Hingga akhir Februari 2026, pemerintah sudah menggelontorkan dana yang tak sedikit dari APBN untuk urusan energi. Tercatat, Rp51,5 triliun telah disalurkan untuk membayar kewajiban subsidi dan kompensasi energi ke sejumlah BUMN yang ditugaskan.
Dalam konferensi pers APBN KiTa, Rabu (11/3), Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membeberkan rinciannya. Ternyata, sebagian besar dari angka fantastis itu tepatnya Rp44,1 triliun diprioritaskan untuk melunasi tunggakan kompensasi energi dari kuartal kedua tahun 2025.
“Itu Rp44,1 triliun sesuai janji kita untuk melunasi secara bertahap utang kompensasi 2025,” jelas Suahasil.
“Makanya, kalau dilihat, belanja subsidi dan kompensasi meningkat cepat di awal tahun 2026 ini,” tambahnya.
Menurutnya, ada perbedaan pola yang mencolok antara tahun lalu dan sekarang. Di 2025, pemerintah fokus membayar subsidi rutin per bulan. Namun begitu, di tahun ini, selain tetap membayar rutin, pemerintah juga menyisihkan anggaran untuk mencicil utang masa lalu.
“Kalau 2025 itu hanya subsidi yang sifatnya bulanan. Sementara di 2026 selain pembayaran subsidi yang terus dilakukan satu per dua belas kepada PLN dan Pertamina, juga ada pembayaran kompensasi untuk utang kompensasi tahun lalu,” paparnya.
Artikel Terkait
Jaksa Penuntut Kasus Sabu 2 Ton Minta Maaf ke DPR Usai Dapat Hukuman Disiplin
Penerimaan Pajak Tumbuh 30,4%, Dongkrak Belanja Negara Awal 2026
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa