Persis Solo juga tak kalah agresif, meski dengan konsep yang beda. Klub dari Jawa Tengah ini mendatangkan paket pemain Serbia. Mulai dari kiper Vukasin Vranes hingga bek Dusan Mijic, semua untuk memperkokoh fondasi pertahanan mereka.
Persib Diam, Semen Padang Gaspol
Di tengah hiruk-pikuk ini, Persib Bandung justru jadi anomali. Maung Bandung memilih untuk tidak membeli pemain baru sama sekali. Mereka hanya merampingkan skuad dengan melepas tiga pemain. Strategi ini seolah menunjukkan kepercayaan penuh manajemen pada komposisi tim yang sudah terbentuk.
Sebaliknya, Semen Padang justru tampil paling masif, terutama di kalangan tim papan bawah. Tujuh pemain asing didatangkan sekaligus untuk memaksimalkan kuota. Nama-nama seperti Kianz Froese, Kazaki Nakagawa, hingga Guillermo Fernandes menjadi simbol perjuangan Kabau Sirah untuk lolos dari ancaman degradasi.
Tim Promosi Tak Mau Cuma Numpang
Sebagai tim promosi, Persijap Jepara tak mau sekadar numpang lewat. Mereka merekrut lima pemain asing, mayoritas dari Eropa. Langkah itu menunjukkan ambisi nyata untuk bertahan lebih lama di kasta tertinggi.
Borneo FC, Bali United, Persik Kediri, Dewa United, hingga Bhayangkara FC juga ikut meramaikan. Skema mereka lebih beragam, banyak yang mengandalkan pinjaman dan pertukaran pemain. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas finansial sambil memperkuat tim.
Jadi, bursa transfer paruh musim kali ini bukan lagi aktivitas rutin belaka. Ini adalah panggung adu nyali antar manajemen klub. Dan dengan belanja hampir Rp14 miliar, Persebaya Surabaya kini berdiri sebagai simbol paling nyata. Mereka sudah "all in" dan siap mengubah peta persaingan di putaran kedua nanti.
Artikel Terkait
Gagal ke Persib, Joey Pelupessy Malah Dikepung Rival
Kastaneer Absen, Persis Solo Tumbang dan Isu Transfer ke PSM Menguat
Lanny/Apriyani Tumbangkan Taiwan Lewat Drama Tiga Gim di Istora
Harapan Tiwi/Fadia Pupus di Perempat Final Indonesia Masters