SEMARANG Akhirnya, PSIS Semarang bergerak. Langkah yang sudah lama dinanti-nanti oleh pendukungnya di Kota Atlas ini, sebuah keputusan tegas untuk memutus mata rantai stagnasi. Performa di paruh pertama Pegadaian Championship 2025/2026 memang jauh panggang dari api. Tak heran, Mahesa Jenar memilih jalur perombakan di tengah musim. Ini bukan keputusan mudah.
Empat pemain lokal resmi dilepas: Lalu Rizky, Wahyu Saputro, Amir Hamzah, dan Aulia Rahman. Bukan sekadar pengurangan jumlah di skuad, ini lebih mirip sinyal keras. PSIS sedang mengoreksi arah, bukan cuma menambal sulam sambil berharap situasi membaik dengan sendirinya.
Nama Aulia Rahman, misalnya, cukup menyita perhatian. Mantan penyerang Timnas Indonesia U-20 itu ternyata tak bisa bertahan hanya mengandalkan status “eks timnas”. Kontribusi di lapangan, rupanya, jadi ukuran yang lebih penting bagi manajemen saat ini.
Reset, Bukan Sekadar Rotasi
Jangan salah paham, langkah PSIS kali ini bukan rutinitas bursa transfer biasa. Ini lebih ke arah reset. Masalahnya, menurut penilaian internal, bukan cuma soal hasil akhir pertandingan. Struktur permainan yang amburadul jadi biang keladi.
Sepanjang putaran pertama, identitas tim tak jelas. Lini tengah kewalahan mengontrol permainan, transisi serangan lambat, dan lini depan nyaris tak punya gigi. Situasi itu makin runyam dengan kinerja pemain asing yang naik-turun bahkan dalam beberapa laga, kehadiran mereka seperti tak memberi pengaruh berarti.
Asisten Manajer PSIS, Reza Andika, mencoba menjelaskan.
Pesan di balik kata-kata itu terang benderang: status quo sudah tak bisa dipertahankan lagi.
Pemain Asing Belum Jadi Jawaban
Nah, ini soal yang pelik. Ketergantungan pada pemain asing ternyata tak kunjung membuahkan hasil. Alih-alih jadi pembeda, beberapa nama justru tenggelam dalam ritme kompetisi yang keras dan cepat ini.
PSIS pun seolah berada di persimpangan. Apakah terus berjudi dengan mendatangkan pemain asing baru, atau beralih ke opsi yang lebih realistis? Misalnya, meminjam pemain lokal berpengalaman yang sudah teruji di Super League.
Kalau dipikir-pikir, berburu pemain lokal seperti itu bukan kemunduran. Justru, ini langkah korektif yang masuk akal.
Alasan Memilih Jebolan Super League
Kenapa pemain lokal dari liga atas? Alasannya sederhana. Pertama, adaptasi mereka bisa instan. Mereka sudah paham betul intensitas, tekanan, dan ritme sepak bola Indonesia. Tak perlu waktu lama untuk beradaptasi.
Kedua, soal efisiensi. Dari segi biaya dan waktu, opsi ini jelas lebih menguntungkan. Dan ketiga, mental mereka biasanya sudah terasah. Terbiasa bermain di klub besar dengan tuntutan tinggi, mental kompetitif mereka tak perlu diragukan lagi.
Singkatnya, PSIS butuh pemain siap pakai. Bukan proyek jangka panjang yang masih perlu dibentuk.
Artikel Terkait
Bobotoh Serbu Instagram Ramos, Ajak Legenda Real Madrid ke GBLA
Herdman Anggap Piala AFF 2026 sebagai Ajang Uji Nyata Talenta Lokal
Milos Pantovic dan Dilema Jebolan Bayern di Persimpangan Jakarta-Surabaya
Arsenal Intai Bek Muda Madrid, Tapi Hati Valdepenas Masih di Bernabeu