Persebaya Krisis Striker Lokal, Bernardo Tavares Diburu Waktu

- Minggu, 18 Januari 2026 | 20:30 WIB
Persebaya Krisis Striker Lokal, Bernardo Tavares Diburu Waktu

SURABAYA Persebaya Surabaya lagi-lagi menghadapi teka-teki yang pelik. Menjelang kompetisi Super League 2025/2026 yang sebentar lagi bergulir, skuat Green Force ternyata kosong dari striker lokal murni. Situasi ini jelas bikin pusing, memaksa pelatih Bernardo Tavares buru-buru cari solusi di tengah bursa transfer yang lagi panas.

Kalau dilihat, Persebaya cuma punya tiga penyerang murni buat sisa musim ini. Semuanya pemain asing: Perovic, Dejan Tumbas, dan Bruno Paraiba. Komposisi seperti ini, jujur saja, masih belum oke. Ada yang kurang.

Ambil contoh Dejan Tumbas. Sebenarnya, pemain asal Serbia ini bukan striker tulen. Posisi aslinya winger, baru dipaksa jadi ujung tombak sejak zaman Paul Munster. Adaptasi posisi ini ternyata nggak gampang. Insting golnya belum keluar maksimal, dan kontribusinya masih terasa ada yang mengganjal.

Lalu ada Bruno Paraiba. Pemain asal Brasil ini baru gabung Januari lalu, jadi wajar kalau dia masih proses adaptasi. Meski fleksibel bisa di sayap atau tengah perannya di lini depan Persebaya masih belum jelas banget. Belum jadi andalan yang bisa diandalkan setiap laga.

Bagaimana dengan Perovic? Performanya sepanjang putaran pertama belum konsisten. Ekspektasi gol ke dia cukup tinggi, tapi realitanya masih jauh dari kata memuaskan.

Nah, karena itulah Bernardo Tavares merasa perlu ada tambahan darah baru. Khususnya dari jalur pemain lokal. Kebutuhannya sudah mendesak.


Striker Lokal: Solusi yang Nggak Gampang

Bernardo sendiri ngaku, cari striker lokal di tengah musim itu susah. Kendala utamanya sederhana: kontrak. Kebanyakan pemain yang diincar masih terikat lama dengan klubnya masing-masing.

“Beberapa pemain lokal yang kami minati masih terikat kontrak. Jadi kami tidak bisa merekrut beberapa pemain. Sulit untuk mendatangkan pemain lokal,” ujar Bernardo.

Dia juga menyoroti sistem kontrak di sepak bola Indonesia yang kerap bikin ruwet. Pemain lokal biasanya pakai kontrak setengah musim, dan klub-klub enggan melepas pemain andalan mereka begitu saja.

“Biasanya pemain lokal bermain dengan half contract. Dan saya tidak melihat banyak klub yang mau melepas pemain dengan kontrak penuh,” lanjutnya.

Tapi, bukan berarti Persebaya pasrah. Manajemen dan tim pelatih konon masih aktif memantau pasar. Mereka cari opsi yang paling realistis, yang bisa memberi dampak cepat tanpa bikin pusing tujuh keliling.


Dua Nama yang Mencuri Perhatian

Di tengah situasi serba sulit, dua nama mulai mencuat: Ramadhan Sananta dan Victor Dethan. Karakter mereka beda, tapi sama-sama menawarkan solusi yang bisa langsung dipakai.

Sananta dikenal sebagai predator di kotak penalti. Insting golnya tajam, plus punya pengalaman di timnas yang bikin mentalnya lebih siap hadapi tekanan. Sementara Victor Dethan menawarkan energi berbeda. Dia lebih muda, agresif, cepat, dan punya ruang berkembang yang masih luas di bawah asuhan Bernardo.

Belum ada konfirmasi resmi sih. Tapi kebutuhan Persebaya yang mendesak bikin dua nama ini sulit diabaikan. Mereka terus mengintai di radar.


Jangan Lupakan Akademi

Di sisi lain, Bernardo tetap ngotot soal pentingnya memaksimalkan potensi internal. Baginya, akademi Persebaya adalah fondasi jangka panjang yang nggak boleh dilupakan.

“Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki. Akademi, pemain muda, tim utama kita,” kata Bernardo.

Dia mengaku sudah melakukan analisis mendalam dengan menonton banyak pertandingan, baik internal maupun eksternal.

“Saya sudah menganalisis banyak pertandingan. Melihat pemain yang ada di sini dan juga yang bermain di klub lain, di posisi lain,” ujarnya.

Pendekatan ini, menurutnya, kunci buat cari solusi yang berkelanjutan. Bukan cuma tambal sulut.

“Ini adalah emas dari klub yang datang dari akademi. Begitulah cara kita membangun budaya,” tegas pelatih asal Portugal itu.


Waktu terus berjalan. Bursa transfer paruh musim makin panas, sementara kebutuhan akan striker lokal makin mendesak. Pertanyaannya sekarang: apakah Persebaya akan berani ambil langkah berani dengan mendatangkan nama besar seperti Sananta? Atau memberi kesempatan pada Dethan? Atau justru mengandalkan bibit muda dari akademi? Jawabannya akan menentukan nasib Green Force di putaran kedua nanti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar