“Data dari teknisi menunjukkan motor akan lebih lambat 1,5-2,5 detik dibandingkan motor saat ini,” terangnya. “Penyebab utamanya adalah minimnya aerodinamika, juga kapasitas mesin 850cc. Menurut saya, sejarah akan berulang.”
Namun begitu, ia yakin ini cuma sementara. Setelah melewati fase adaptasi, para pabrikan pasti akan menemukan cara untuk mendongkrak performa. “Dengan pengembangan di tahap selanjutnya setelah adaptasi, motor-motor itu akan jadi lebih kencang,” tandas Capirossi penuh keyakinan.
Di sisi lain, tidak semua legenda sepakat. Casey Stoner, misalnya, punya pandangan berbeda. Mantan juara dunia itu justru pesimis. Ia khawatir dengan kecepatan puncak yang lebih rendah, aksi salip-menyalip akan jauh berkurang. Alhasil, balapan bisa jadi kurang seru dan malah membosankan.
Jadi, dua pendapat ini saling bertolak belakang. Satu lihatnya sebagai fase adaptasi yang wajar, yang lain sudah membayangkan dampak membosankan di lintasan. Yang jelas, era baru MotoGP 2027 memang menjanjikan sebuah transformasi radikal. Tinggal tunggu, apakah prediksi Capirossi atau kekhawatiran Stoner yang akan terbukti nanti.
Artikel Terkait
Posisi Maarten Paes di Ajax Terancam Usai Klub Incar Kiper Baru
Bradl Ungkap Ambisi Marquez: Lampaui Rossi dan Rebut Gelar MotoGP ke-8
Latihan PSIS Memanas, Dua Pemain Asing Hampir Berkelahi Jelang Laga Krusial
Persebaya Raih Kemenangan Tipis Atas PSM, Tavares Fokus ke Laga Berat Lawan Persib