Latihan PSIS Memanas, Dua Pemain Asing Hampir Berkelahi Jelang Laga Krusial

- Kamis, 26 Februari 2026 | 16:30 WIB
Latihan PSIS Memanas, Dua Pemain Asing Hampir Berkelahi Jelang Laga Krusial

SEMARANG Lapangan POJ sore itu, Rabu (25/2/2026), terasa berbeda. Udara lebih tebal. Teriakan instruksi melengking, duel fisik berlangsung sengit, dan setiap bola seolah punya bobot lebih. Bukan latihan biasa. Bagi PSIS Semarang, ini persiapan untuk sebuah pertaruhan besar.

Laga tandang melawan Persiba Balikpapan pekan depan bukan cuma pertandingan. Itu adalah jalan keluar atau justru jurang yang lebih dalam. Tekanan untuk keluar dari zona degradasi itu nyata, dan rasanya menyebar di setiap sudut lapangan.

Intensitasnya pun akhirnya memuncak jadi emosi.

Dalam gim internal, dua pemain asing, Aldair Simanca dan Rafinha, nyaris berkelahi. Mereka saling serang, berebut bola tanpa ampun, hingga akhirnya saling adu mulut. Rekan-rekan lain buru-buru melerai. Alberto Goncalves, sang senior, maju untuk meredam. “Santai, santai,” katanya, menarik keduanya berpisah.

Namun begitu, suasana tak langsung reda. Menjelang latihan usai, Fahmi Al Ayyubi dan Esteban Vizcarra juga terlibat cekcok. Suara mereka terdengar dari pinggir lapangan. Bukan pertanda retak, sih. Lebih seperti luapan dari sebuah tim yang sadar betul posisinya lagi genting.

PSIS memang sedang di fase krusial. Dan setiap pemain merasakannya.

Buat Aldair Simanca, misalnya, latihan ini adalah panggung pembuktian. Statusnya sebagai bek pinjaman mulai goyah setelah penampilan biasa saja melawan Deltras FC. Sebagai pemain asing, ekspektasi padanya memang lebih berat. Setiap duel adalah kesempatan untuk mengingatkan pelatih tentang kemampuannya.

Di sisi lain, Rafinha datang dengan modal kepercayaan diri yang berbeda.

Dua laga terakhirnya cukup mentereng. Gol di menit akhir lawan Persela Lamongan menyelamatkan satu poin. Lalu, eksekusi penalti yang dingin menghadapi Deltras membawa tiga poin penuh. Performa itu memberinya angin, tapi dia paham. Di tim yang lagi berjuang, konsistensi adalah segalanya. Satu slip, posisinya bisa hilang.

Persaingan di skuad sekarang bukan lagi soal nama besar atau reputasi lama. Tapi kontribusi nyata, hari ini, di lapangan.

Menariknya, pelatih kepala Andri Ramawi justru tak khawatir dengan gesekan-gesekan tadi.

“Ini hal yang normal,” ujarnya usai latihan, sambil memperhatikan anak asuhnya berhamburan ke pinggir lapangan.

“Ada momen biasa, ada juga yang tensi tinggi. Itu lumrah dalam tim yang sedang berjuang.”

Bersama direktur teknik Angel Alfredo Vera, ia memantau setiap detail. Setiap keputusan untuk starting line up nanti akan dipertimbangkan matang. Justru dari ketegangan itu, Andri melihat sesuatu yang positif: kompetitivitas. Setiap pemain berusaha mati-matian menunjukkan bahwa dirinya pantas main sejak menit pertama.

Laga di Balikpapan nanti jelas bukan tugas mudah. Bermain di kandang lawan selalu punya tantangan ekstra. Tapi bagi Mahesa Jenar, meraih hasil maksimal di sana bisa jadi titik balik musim ini.

Zona degradasi itu bukan cuma angka di tabel. Ia ancaman nyata buat stabilitas klub. Mungkin karena itulah latihan tadi sampai begitu memanas. Itu bukan sekadar ledakan emosi sesaat, tapi cerminan dari kesadaran kolektif. Musim ini belum aman. Masih panjang.

Intinya, PSIS bukan cuma berlatih untuk menang. Mereka berlatih untuk bertahan. Dan di balik panasnya tensi internal sore itu, satu hal jelas terlihat: semangat juang mereka belum padam.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar