Di Balik Senyapnya Bidikan, Anggoro Temukan Ketenangan di Ujung Panah

- Jumat, 19 Desember 2025 | 13:30 WIB
Di Balik Senyapnya Bidikan, Anggoro Temukan Ketenangan di Ujung Panah

Di lapangan Supersoccer Arena, Kudus, busur dan anak panah berjejer rapi. Tapi di balik keheningan sebelum bidikan itu, ada cerita yang lebih panjang dari sekadar target dan medali. Ini tentang seorang anak yang justru menemukan ketenangannya lewat lesatan anak panah.

Namanya Anggoro Wahyu Nuswantoro, atlet compound U-18 dari DAD Archery Jakarta. Bagi dia, panahan bukan cuma jalan jadi atlet. Lebih dari itu, olahraga ini jadi ruang untuk benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Dan di pinggir lapangan, sosok Widia selalu setia mendampingi. Sebagai ibu, dia melihat langsung perubahan pada anaknya. Dari seorang anak yang dulu sulit sekali diam, kini Anggoro bisa berdiri tenang di garis tembak, menjalani latihan dengan sabar. Perubahannya pelan, tapi nyata.

Dari Wisata ke Candi, Hingga ke Garis Tembak

Semua berawal tanpa rencana. Keluarga ini sedang liburan ke Yogyakarta, kampung halaman mereka.

"Kami waktu itu wisata ke Candi Prambanan. Ternyata, di situ ada wahana panahan, memanah. Di situ saya coba, dan Anggoro minat di situ," kenang Widia.

Ketertarikan sekilas itu tak dibiarkan menguap. Sesampainya di Jakarta, Widia mulai mencari info tentang klub panahan. Tapi tahun 2017 silam, olahraga ini belum populer. Pilihannya sangat terbatas.

"Saya sempat cari informasi. Dan ternyata sampai Jakarta itu, wah masih jarang," ujarnya. "Kebetulan saya tinggal di Jakarta Timur. Kemudian saya dapat info di Taman Mini Indonesia Indah itu ada klub panahan. Ya sudah, saya daftarkan ke situ."

Lebih Dari Sekadar Olahraga

Seiring waktu, Widia sadar dampaknya lebih dalam. Anggoro belajar lebih dari sekadar membidik.

"Memang pada dasarnya Anggoro itu, tanda kutip ya, dia ada kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus dalam arti dia sulit fokus. Kemudian dia itu dulunya "speed delay". Dan harus terapi, bicara, okupasi, "sensory", integrasi, dan sebagainya," ungkap Widia.

Saat mulai panahan, masa terapi sebenarnya sudah selesai. Tapi bagi Widia, aktivitas di lapangan itu seperti kelanjutan alami dari proses penyembuhan. Anggoro anak kinestetik, punya energi melimpah. Panahan justru menuntut hal sebaliknya: ketenangan, kontrol penuh, dan kesabaran.

"Tapi ketika di panahan, dia bisa diam. Patuh dalam mengikuti sesi-sesi latihan sampai selesai," katanya, masih terkesan.

Tahun pertama, Widia sengaja tak memberi beban. Anggoro dibebaskan menikmati panahan sesukanya. "Jadi di situ terserah, dia mau main, mau apa, itu saya bebaskan."

Setelah satu tahun, pendekatannya berubah. Ketika panahan sudah jadi pilihan hati Anggoro sendiri, ibunya mulai menanamkan rasa tanggung jawab.

"Satu tahun pertama, saya bebasin. Tapi setelah itu, saya mulai ketat. Jadi ketika ini pilihan dia, ya lu harus jalanin. Seperti itu. Dengan berbagai resikonya," tegas Widia.

Proses itulah yang mengubah panahan dari sekadar hobi. Ia menjadi bagian penting dari hidup Anggoro. Dan di ajang MilkLife Archery Challenge KEJURNAS Antar Club 2025 ini, perjalanan itu membuahkan hasil: sebuah medali perunggu di Divisi Compound U-18 Beregu. Sebuah pencapaian, yang dimulai dari sebuah wahana wisata dan ketenangan yang ditemukan di ujung anak panah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar