Di arena Islan Hall, Thailand, Kamis lalu, suasana tegang tiba-tiba pecah menjadi sorak-sorai. Muhammad Alfi Kusuma, bersama dua rekannya, Rizal dan Hafizh, baru saja memastikan sesuatu yang spesial: medali emas pertama untuk Indonesia di SEA Games 2025. Mereka meraihnya lewat cabang taekwondo, tepatnya di nomor tim poomsae putra.
Tak heran, perasaan yang meluap begitu penghargaan tertinggi itu diraih. "Alhamdulillah," ujar Alfi, beberapa hari setelah kemenangan bersejarah itu. Ia mengaku campur aduk antara bahagia dan terharu.
“Alhamdulillah tim taekwondo berhasil meraih medali emas pertama untuk Tim Indonesia. Perasaan kami sangat bahagia dan terharu. Ini menjadi pecah telur bagi Indonesia, sekaligus buah dari latihan keras yang kami jalani,”
Bagi Alfi, emas ini punya arti yang dalam. Bukan cuma sekadar kemenangan biasa. Selama ini, tim poomsae putra Indonesia kerap terhenti di posisi ketiga. Nah, di Thailand 2025, mereka akhirnya berhasil melompat ke puncak.
“Emas ini sangat berarti. Selama ini kami selalu berada di posisi ketiga, dan akhirnya kami berhasil pecah telur meraih medali emas,” bebernya.
Namun begitu, jalan menuju podium tertinggi itu jelas tak mudah. Di balik kilau medali, ada pengorbanan panjang yang jarang terlihat. Waktu yang habis untuk berlatih, rasa rindu pada keluarga di rumah, dan segala upaya ekstra harus dibayar lunas.
“Di balik pencapaian ini, ada begitu banyak pengorbanan, waktu, jauh dari keluarga, dan rindu kepada orang-orang terkasih. Medali emas ini adalah hidup dan kebanggaan kami. Segalanya,” imbuh Alfi.
Ia pun tak lupa mengucapkan terima kasih. Dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, kata dia, adalah penyemangat terbesar. Begitu pula doa dan kesabaran orang tua serta pelatih yang membimbing mereka meski dengan segala keterbatasan.
“Bagi saya pribadi, medali emas ini untuk seluruh rakyat Indonesia yang selalu memberi dukungan dan kepercayaan kepada kami,” paparnya. “Tentu juga untuk kedua orang tua kami, serta pelatih yang telah dengan sabar membimbing kami, meski dalam segala keterbatasan. Tanpa doa mereka, kami tidak mungkin berada di titik ini.”
Jadi, itulah kisah pembuka yang manis dari kontingen Indonesia. Sebuah emas pertama yang lahir dari keringat, rindu, dan tekad bulat tiga pesilat taekwondo di tanah orang.
Artikel Terkait
Persija Targetkan 60 Ribu Penonton di Laga Lawan Persib, Siap Buka Tier 3 JIS
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Samakan Poin dengan Persib di Puncak Klasemen Super League
Barcelona Masuk Perburuan Eli Junior Kroupi, Bournemouth Pasang Harga Rp1,4 Triliun
Legenda MU Sesali Kepergian Hojlund ke Napoli: Potensi Besar yang Hilang