Lebih lanjut, politisi tersebut mengingatkan bahwa bahkan jika game dengan konten kekerasan ditutup, upaya peningkatan literasi digital dan peran pengawasan orang tua tetaplah krusial. Penggunaan game online di kalangan pelajar perlu diarahkan, misalnya ke dalam cabang olahraga e-sport yang lebih terstruktur. Hadrian menegaskan bahwa pendidikan karakter dan pengawasan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan institusi sekolah.
Ia mengakui bahwa game seperti PUBG berpotensi mempengaruhi sikap para pelajar. Paparan intens terhadap konten kekerasan dalam game dapat berpotensi meningkatkan kecenderungan agresif dan mengurangi rasa empati. Perilaku ini berisiko untuk terbawa dalam interaksi sosial sehari-hari di lingkungan sekolah.
Namun, dampak tersebut tidak bersifat mutlak. Besarnya pengaruh game bergantung pada beberapa faktor, seperti kepribadian individu, lamanya waktu bermain, dan yang terpenting adalah intensitas pengawasan dari orang tua. Oleh karena itu, peran aktif orang tua dalam mengawasi dan membimbing anak dalam menggunakan game online tidak dapat digantikan.
Artikel Terkait
Al Nassr Hajar Al Najma 5-0, Ronaldo Cs Kembali Puncaki Klasemen Sementara
Warga Temukan Pria Lansia Meninggal di Bawah Lintasan LRT Depok
LPDP Masih Hitung Jumlah Pengembalian Dana Beasiswa dari Alumni yang Viral
SIM Keliling Kembali Beroperasi di Lima Titik Jakarta untuk Perpanjang SIM A dan C