Diskusi yang juga dihadiri anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana, ini membahas tahun 1965 yang dinilai Van Reybrouk sebagai titik balik suram bagi Indonesia dan dunia. Menurut analisisnya, rezim militer yang lahir pasca peristiwa 1965 telah mematikan kebebasan berpikir dan menghentikan semangat progresif yang sebelumnya hidup di era Presiden Soekarno.
"Antara 1945 hingga 1965, Indonesia adalah pemain dunia, pusat dinamika global. Setelah itu, pintu ditutup rapat oleh kekuasaan militer," jelas penulis buku bestseller 'Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World' tersebut.
Pentingnya Pengakuan Sejarah untuk Masa Depan Indonesia
Dalam sesi tanya jawab, David Van Reybrouk menanggapi pertanyaan reflektif tentang cara terbaik bagi bangsa Indonesia dalam memperlakukan masa lalunya. Ia menekankan bahwa pengakuan atas kebenaran sejarah merupakan langkah krusial untuk membangun masa depan yang lebih sehat secara politik dan moral.
Van Reybrouk menambahkan, bangsa yang berani menatap masa lalunya dengan jujur akan memiliki fondasi lebih kuat dalam menghadapi tantangan demokrasi modern. Di akhir diskusi, ia mengajak publik Indonesia untuk meninjau ulang sejarah secara objektif, tanpa glorifikasi kekuasaan.
"Menghormati masa lalu bukan berarti menutup mata terhadap luka sejarah," pungkas David Van Reybrouk, menutup diskusi yang mengundang perdebatan tentang narasi sejarah Indonesia ini.
Artikel Terkait
Raksasa Film Pendek Indonesia Mulai Bangun di Festival Bergengsi Prancis
Glodok Berubah Jadi Lautan Merah dan Emas Jelang Imlek 2026
Interpol Pasang Buru-Buru untuk Riza Chalid, Buronan Korupsi Migas
Polisi Ungkap Telah Tahu Negara Persembunyian Riza Chalid, Buron Interpol Kasus Korupsi Minyak