Trotoar di Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, itu seharusnya jadi tempat yang aman buat orang lewat. Tapi kenyataannya? Kasadi, seorang pemulung paruh baya, justru harus ekstra hati-hati setiap kali melangkah di sana. Lokasinya dekat lapangan bola sebelah Kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah. Jalannya tak pernah benar-benar tenang.
Masalahnya ada dua: kabel yang menjuntai rendah dan tumpukan sampah yang mempersempit jalan. Bagi Kasadi, ini urusan serius. Bukan cuma ganggu, tapi bikin was-was.
“Ganggu lah,”
Katanya suatu Minggu sore. Gangguan itu sudah jadi langganan. Kabel-kabel itu pernah bikin dia tersandung, bahkan jatuh. “Kadang-kadang sering keserimpet, saya pernah jatuh. Enggak sekali, sering saya,” ujarnya. Soalnya, kabelnya sering tak kelihatan, menggantung di ketinggian yang bikin salah langkah.
Selain kabel, sampah yang menumpuk di badan trotoar juga jadi rintangan. Kasadi yang setiap hari lewat untuk cari botol bekas sering kesulitan. “Sampahnya ya gitu kadang-kadang sampe numpuk (di atas trotoar, bukan hanya di pinggir jalan), itu lewat aja susah. Enggak lewat,” tuturnya. Kondisi kayak gini katanya udah berlangsung setengah tahun lebih. Harapannya sederhana: “Ya biar bersih lah.”
Memang, pantauan di lapangan membenarkan keluhan Kasadi. Ada beberapa titik di mana kabel terlihat menggantung, ketinggiannya bervariasi ada yang setinggi kepala, ada pula yang serendah bangku trotoar. Sampah-sampah pun menumpuk, menyisakan ruang yang sempit untuk pejalan kaki.
Di sisi lain, ada Nawiri yang justru punya pandangan berbeda. Pria 60 tahun ini sudah jadi pengangkut sampah sejak 1996. Rutinitasnya tiap hari: mendorong gerobak menyusuri RT 3, Legoso Utara, untuk kumpulkan sampah warga.
“Emang naruhnya di sini, entar pagi diangkut Pemda. Ini kan Pemda yang mau. Pemda yang ngangkut. Saya dari warga ke sini,”
Jelasnya. Menurut Nawiri, sistemnya memang begitu. Mobil pengangkut sampah pemerintah daerah tak bisa masuk ke permukiman sempit, jadi titik trotoar itulah tempat penampungan sementara. “Saya dari dalem (kawasan rumah warga). Kalau mobil kan masuk-masuk enggak bisa,” tambahnya.
Sampah biasanya mulai dikumpulkan sejak siang. Baru diangkut sekitar pukul 4 pagi keesokan harinya. Setelah itu, warga dilarang menaruh sampah lagi sampai sore. “Iya, pokoknya kalau udah diangkut itu pagi jam-jam 7 tuh jamnya enggak boleh diangkut taruh dulu. Entar kalau udah jam segini, baru boleh gitu kan,” ucap Nawiri.
Soal sampah memenuhi trotoar, Nawiri mengaku biasa saja. Sudah terbiasa. Dia juga menyoroti bahwa yang suka buang sampah sembarangan justru orang luar, bukan warga setempat yang rutin bayar iuran. “Kalau warganya mah diambilin. Paling yang naruh (langsung) ini orang-orang luar,” ujarnya.
Tiga puluh tahun bergelut dengan sampah. Bau, risiko penyakit, pandangan orang semua itu sudah jadi bagian hidupnya. “Ah udah biasa,” tandasnya singkat. Bagi Nawiri, ini pekerjaan. Bagi Kasadi, ini masalah yang mengancam. Dua sudut pandang, satu trotoar yang sama.
Artikel Terkait
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1