Seorang perwira polisi di Sulawesi Tengah mengubah luka masa lalunya menjadi kekuatan untuk membela perempuan dan anak korban kekerasan seksual. AKP Siti Elminawati, Kanit 1 Subdit 4 Dit Reskrimum Polda Sulawesi Tengah, mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual saat duduk di bangku SMP dan SMA. Pengalaman pahit itu justru mendorongnya untuk terus berkarya di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
"Ternyata luka itu yang membuat saya terus berkarya, khususnya di unit PPA untuk saya bekerja terhadap korban-korban yang tidak berani speak up. Makanya pendekatan saya saat menangani kasus yang korbannya adalah pelecehan seksual, saya menjadi diri saya pada saat beberapa puluh tahun yang lalu," ujar AKP Siti dalam wawancara kandidat Hoegeng Awards 2026, Jumat (3/7/2026).
Perempuan yang bergabung dengan Korps Bhayangkara pada 2001 itu mengaku awal mula dorongan menjadi anggota Polri datang dari pamannya saat terjadi konflik internal di Poso. Ia melihat situasi sosial yang tidak kondusif dan merasa menjadi Polwan adalah pilihan tepat untuk membantu masyarakat hidup damai.
Sejak menjadi Polwan, AKP Siti langsung berkecimpung di bidang perlindungan perempuan dan anak. Ia menekankan pentingnya mengedepankan empati terhadap korban. "Kenapa kita mengedepankan perspektif korban? Karena korban ini adalah orang yang mendapat luka, luka itu bisa fisik ataupun psikis. Ketika kita tidak mencari solusi yang tepat, korban ini nanti akan merasa terpuruk ke depannya," katanya.
Pendekatan keibuan menjadi andalan AKP Siti dalam menangani kasus. "Kalau saya pendekatan sebagai seorang ibu, dan alhamdulillah pada saat penanganan kasus mengedepankan pendekatan keibuan itu bisa membuka ruang kepada korban maupun pelaku untuk memberikan keterangan tanpa adanya intimidasi," tambahnya.
AKP Siti percaya Tuhan sudah menyiapkan dirinya untuk para perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seksual. "Mungkin melalui saya bertugas di PPA, orang yang mengharapkan keadilan itu bisa terselesaikan," tegasnya.
Apresiasi datang dari Kapolres Sigi AKBP Kari Amsah Ritonga yang menilai AKP Siti sebagai sosok Polwan yang keibuan, tegas, dan humanis. "Dari sisi kerja, Ibu Siti termasuk seorang Polwan yang ulet dan tangguh dalam melaksanakan tugasnya," ucap AKBP Ritonga.
Direktur Eksekutif Libu Perempuan Sulawesi Tengah, Dewi Rana, juga mengungkapkan komitmen AKP Siti dalam melindungi kaum perempuan dan anak. Menurutnya, hal paling sederhana adalah AKP Siti tidak itung-itungan dalam hal biaya menangani kasus kekerasan seksual. "Kadang-kadang untuk penanganan kasus kita kekurangan anggaran, misalnya untuk transport pulang korban. Bu Siti kadang mengeluarkan uang pribadi untuk empati kepada korban agar bisa pulang sampai ke rumahnya," kata Dewi.
Dewi menilai kepedulian AKP Siti lahir secara alami. "Ada hal-hal yang menurut saya sangat genuine yang dilakukan oleh aparat. Tidak banyak orang punya kepedulian terhadap korban kekerasan pada perempuan, itu lahir dari Ibu Siti. Menurut saya itu menarik," imbuhnya.
Artikel Terkait
Polisi Jerat Tersangka Penganiayaan dan Penyekapan dengan Pasal Kekerasan Seksual
Taufik Hidayat Terancam 36 Tahun Penjara, Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual pada Kekasih
Tim Hotman 911 Laporkan Oknum Polisi Aktif ke Bareskrim atas Dugaan Penyiksaan dan Kekerasan Seksual
Kejagung: Restitusi Korban Kekerasan Seksual Belum Maksimal, Nilainya Cukup untuk Makan Bakso