Sekolah di Australia Barat Ajarkan Bahasa Indonesia Sejak SD demi Perkuat Hubungan Bilateral

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 19:30 WIB
Sekolah di Australia Barat Ajarkan Bahasa Indonesia Sejak SD demi Perkuat Hubungan Bilateral

Persahabatan antara dua negara dapat berakar dari pemahaman budaya yang ditanamkan sejak usia dini, sebuah fondasi yang diyakini mampu memperkuat hubungan bilateral dalam jangka panjang. Prinsip inilah yang tengah dijalankan oleh Sekolah Dasar Bertram, yang terletak di sisi selatan Perth, Australia Barat, sekitar 35 menit berkendara dari pusat kota. Di lembaga pendidikan ini, bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswa.

Rombongan editor dari Indonesia yang mengikuti program kunjungan Australia-Indonesia Senior Editors berkesempatan menyaksikan langsung kemampuan para siswa Bertram. Mereka terlihat fasih melafalkan angka satu hingga sepuluh dalam bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, para siswa juga mampu menyapa tamu dengan sapaan seperti selamat pagi, selamat datang, hingga apa kabar. Seorang siswa bernama Mia bahkan menambahkan, “I also know couple of words, like api, angin, baik-baik saja.”

Di balik keberhasilan ini, terdapat sosok Vincent Sweetman, guru bahasa Indonesia di SD Bertram. Vincent mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Indonesia. Ia tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga memperkenalkan budaya Nusantara kepada murid-muridnya. Selama empat tahun terakhir ia mengajar di sekolah tersebut, setelah sebelumnya menghabiskan lebih dari empat tahun mengajar di berbagai sekolah di Jakarta.

“Di masa depan, pemahaman para siswa akan Indonesia, dan begitu juga sebaliknya, akan semakin mempererat persahabatan antara mereka,” ujar Vincent.

Ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing sangat penting untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Lebih dari itu, kemampuan ini juga dapat mencetak siswa menjadi warga dunia yang menghargai keberagaman. “Di tingkat sekolah dasar, mengajar bahasa Indonesia memungkinkan siswa tidak sekadar menghafal kosakata dan komunikasi dasar, tetapi juga mengembangkan apresiasi terhadap kekayaan budaya dan sejarah Indonesia. Hal ini menumbuhkan rasa hormat dan ikatan kedekatan yang tulus sejak dini,” jelasnya.

Vincent kemudian membeberkan tiga alasan utama mengapa sekolah-sekolah di Australia Barat menjadikan bahasa Indonesia sebagai fokus utama. Pertama, faktor geografi dan pariwisata. Lokasi Perth di pesisir barat Australia membuat akses perjalanan ke Indonesia, khususnya Bali, sangat cepat dan populer di kalangan keluarga setempat. Kedua, faktor kemitraan ekonomi. Indonesia dipandang sebagai kekuatan ekonomi regional yang sedang tumbuh pesat, sehingga kemahiran berbahasa Indonesia dinilai dapat membuka peluang di bidang pendidikan, diplomasi, hingga bisnis. Ketiga, kemudahan belajar. Bahasa Indonesia menggunakan abjad Latin, sehingga proses membaca dan menulis menjadi lebih mudah diakses dan meningkatkan kepercayaan diri anak-anak.

Sementara itu, bentuk kolaborasi antara para siswa dan guru dari kedua negara untuk merawat persahabatan Indonesia-Australia sangat beragam. Salah satunya adalah kegiatan kunjungan rutin lintas negara yang dilakukan para guru. Mulai dari lawatan pihak sekolah mitra ke Australia pada 2023, kunjungan balasan dari pihak Bertram ke Bandung pada 2024 untuk membahas pendidikan inklusif, hingga studi banding pada 2025 lalu.

Di sisi lain, bahasa dan budaya Indonesia telah melebur menjadi bagian dari identitas SD Bertram. Anak-anak di Australia ikut merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, belajar memasak hidangan Nusantara, hingga menggelar Malam Apresiasi Budaya. Untuk periode 2026-2027, persahabatan ini dirancang semakin erat melalui enam aksi nyata yang dimotori oleh para siswa. Aksi tersebut meliputi pembuatan video perkenalan bilingual yang mengangkat cerita pribadi, isu inklusi sosial, hingga krisis iklim; unjuk gigi permainan tradisional melalui rekaman video pendek; aksi lingkungan dengan mengumpulkan dan memilah sampah; saling bertukar karya seni buatan tangan; kunjungan guru berlanjut untuk berbagi wawasan soal inklusi melalui olahraga; serta praktik lintas budaya dengan memainkan permainan tradisional dari sekolah mitra.

Berbagai kolaborasi inspiratif ini dapat terwujud berkat inisiatif Kemitraan Sekolah BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement). Program yang merupakan inisiatif Pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) bersama Asialink Education ini telah berjalan sejak 2008. Sampai saat ini, program BRIDGE sudah menghubungkan lebih dari 250 pasang sekolah di Indonesia dan Australia. SD Bertram sendiri bermitra dengan SDN 023 Pajagalan di Kota Bandung, sebuah pertemanan yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Bagi Vincent, kolaborasi langsung semacam ini sangat membantu guru dan murid. Sebab, belajar bahasa asing di sekolah memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak SD biasanya hanya memiliki jam pelajaran sekitar 40 hingga 70 menit per minggu, dengan kesempatan untuk praktik bahasa Indonesia di luar kelas yang sangat minim. Karena itu, program kolaborasi dengan SDN 023 Pajagalan menjadi solusi nyata. Apalagi, inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) serta berbagai tokoh masyarakat setempat.

“Kemitraan ini menyediakan wadah pertukaran budaya yang autentik. Secara pribadi, saya merasa sangat terhormat dan bersyukur bisa bekerja sama dengan rekan-rekan pengajar dari Indonesia untuk memperkenalkan keajaiban budaya dan sejarah Indonesia, sebuah negara yang begitu dekat di hati saya,” ungkap Vincent bangga.

Aktivitas di SD Bertram ini hanyalah sebagian cerminan dari jaring kerja sama yang luas. Dari ruang-ruang kelas di Bertram, benih pemahaman lintas budaya terus disemai. Kelak, saat anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka tak lagi melihat lautan sebagai pemisah, melainkan sebuah jalan penghubung untuk kerja sama dua negara tetangga yang lebih erat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar