Keputusan untuk meninggalkan peluang emas menuju puncak karier sebagai kepala sekolah di sekolah reguler demi memimpin Sekolah Rakyat bukanlah langkah yang mudah bagi Rifki Hakim. Namun, keyakinan bahwa memajukan pendidikan tidak semata-mata soal status atau jabatan menjadi alasan kuat di balik keberaniannya keluar dari zona nyaman.
Ramah dan murah senyum, itulah kesan pertama yang terpancar dari sosok pria yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Rifki Hakim selalu menyapa hingga berbincang akrab dengan para murid. Ketika melihat kehadirannya di lapangan upacara, anak-anak didiknya langsung menghampiri dan menyalaminya dengan penuh hormat.
Namun, perjalanan Rifki menuju posisi ini tidaklah sederhana. Ia sempat dilanda keraguan dan dilema saat dihadapkan pada dua pilihan: menjadi kepala sekolah gratis berasrama gagasan Presiden Prabowo Subianto atau memimpin salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.
Semua berawal dari sambungan telepon dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan yang mengabarkan bahwa namanya masuk dalam daftar 35 calon Kepala Sekolah Rakyat. Rifki kemudian mengumpulkan berkas dan mengikuti proses seleksi, mulai dari wawancara, psikotes, hingga tes Bahasa Inggris TOEFL.
Pria kelahiran Banjarnegara ini pun lolos dan diundang mengikuti retret di Jakarta. Namun, di saat yang bersamaan, ia juga menerima panggilan untuk melengkapi berkas administrasi sebagai calon kepala sekolah di sekolah reguler.
“Ada dilema di situ. Ada dilema yang membuat saya agak ragu-ragu (menjadi Kepala Sekolah Rakyat),” kata Rifki dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5/2026).
Dilema itu juga datang dari keluarga, terutama ibunya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dari orangtua yang berprofesi sebagai guru, dan jabatan terakhir sang ibu adalah kepala sekolah. Tak hanya itu, banyak kolega mempertanyakan keputusannya karena status Sekolah Rakyat yang dinilai belum jelas.
Kepastian mulai hadir saat ia mengikuti retret. Di sana, Rifki mendapatkan penjelasan gamblang mengenai tujuan dan sasaran program pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto, yakni menyasar anak-anak miskin dan miskin ekstrem di seluruh Indonesia agar memiliki kesempatan bersekolah secara gratis sekaligus memutus rantai kemiskinan.
Akhirnya, restu dari sang ibu dan istri pun turun. Rifki makin mantap meninggalkan zona nyamannya.
“Saya terus terang, sekarang bukan lagi memikirkan karier. Ini loh anak-anak sudah dititipkan ke saya, jadi sudah merasa ini tanggung jawab saya, dan saya harus membawa mereka sampai benar-benar jadi orang,” ujarnya.
Ia juga mengingat betul pesan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat membuka retret Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta beberapa waktu lalu. Kepala sekolah, kata Gus Ipul, berperan menyalakan lilin bagi orang-orang yang sudah hampir menyerah. Pesan itulah yang menyentuh hatinya dan menjadi kunci untuk memantapkan diri bergabung di Sekolah Rakyat.
“Jadi, kalau saya sudah menyatakan untuk terjun di sini, berjuang sekuat semampu saya, tujuannya apa? Membantu Pak Presiden memutus rantai kemiskinan yang ada di Indonesia. Kalau memang insya Allah ini jalan yang benar, tidak mungkin saya tersia-siakan. Insya Allah seperti itu,” tegasnya.
SRT 9 Banjarbaru saat ini mengelola dua jenjang pendidikan, yakni sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA), dengan total 125 siswa. Sebanyak 75 orang merupakan murid SMA yang terbagi dalam tiga rombongan belajar, sementara 50 siswa SMP menempati dua rombongan belajar.
Para murid hadir dengan latar belakang yang beragam, mulai dari putus sekolah hingga mereka yang terpaksa bekerja di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar. Oleh karena itu, setiap anak membawa karakter masing-masing. Rifki mencontohkan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah masih minimnya sopan santun dan tata krama di kalangan murid.
Ia pun menekankan pentingnya kesabaran bagi para guru dan tenaga kependidikan dalam membangun karakter serta kedisiplinan siswa.
“Makanya kalau saya sebagai kepala sekolah di sini menekankan kesabaran. Jadi kunci dari semua keberhasilan adalah kesabaran,” kata Rifki.
Setelah hampir dua bulan berkarya, ia mulai melihat perubahan yang cukup signifikan. Anak-anak yang dulunya cenderung acuh kini mulai lebih peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar. Mereka juga lebih menghormati orang yang lebih tua, ditunjukkan dengan cara menyapa hingga berjabat tangan saat ada yang lewat di lingkungan sekolah.
Di mata Rifki, Sekolah Rakyat merupakan terobosan baru dalam memutus mata rantai kemiskinan. Konsep sekolah berasrama dan gratis, menurutnya, adalah cara yang tepat untuk memuliakan orang miskin dengan memberikan bekal pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Rifki berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas atau penambahan jumlah Sekolah Rakyat di berbagai daerah, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan di sekolah yang sudah beroperasi. Dari ruang-ruang belajar sederhana, ia membuktikan bahwa dedikasi dan keberanian mengambil pilihan berbeda bisa membuka jalan bagi lahirnya harapan baru.
Artikel Terkait
Pertamina Goes to Campus 2026 Resmi Dimulai di ITB, Siap Cetak Talenta Muda Energi Nasional
Tiga Remaja Keracunan Gas Genset Masjid di Tanah Datar, Dua Tewas
Sekolah di Australia Barat Ajarkan Bahasa Indonesia Sejak SD demi Perkuat Hubungan Bilateral
Polisi Lakukan Uji Balistik untuk Lacak Asal Peluru Nyasar di Ciracas