MPR RI Gelar Literasi Kreatif Terrarium, Kenang Perenungan Pancasila di Bawah Pohon Sukun

- Kamis, 14 Mei 2026 | 10:40 WIB
MPR RI Gelar Literasi Kreatif Terrarium, Kenang Perenungan Pancasila di Bawah Pohon Sukun

Perpustakaan MPR RI menggandeng Terramori dalam menyelenggarakan kegiatan Literasi Kreatif bertajuk “Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila” di Ruang Perpustakaan MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta. Acara ini dirancang untuk menggelorakan semangat literasi dan kreativitas sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan di kalangan peserta.

Kegiatan tersebut sejalan dengan Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2023 yang menyebutkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai ruang pengembangan diri, kreativitas, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, menyampaikan apresiasi kepada Perpustakaan MPR RI atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, literasi kreatif bukan sekadar aktivitas yang bersifat artistik, melainkan juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Siti mengaku gembira melihat antusiasme peserta yang datang dari berbagai kalangan dan generasi. Ia menyoroti keterlibatan peserta laki-laki yang menurutnya memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.

“Saya senang karena kegiatan seperti ini biasanya didominasi peserta perempuan, tetapi hari ini alhamdulillah ada peserta laki-laki juga dan generasinya cukup berimbang. Artinya kegiatan ini bisa diterima oleh semua kalangan,” ujar Siti dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).

Terrarium, yang menjadi inti dari kegiatan ini, merupakan seni menata tanaman kecil, lumut, dan elemen lain seperti batu atau pasir di dalam wadah kaca transparan. Kerajinan ini mensimulasikan ekosistem alami dalam bentuk miniatur dan kerap disebut sebagai “hutan dalam botol” atau ekosistem mandiri untuk hiasan ruangan.

Pemilihan tema pohon sukun bukan tanpa alasan. Siti menjelaskan bahwa pohon tersebut memiliki makna historis dan ideologis yang mendalam karena menjadi bagian dari kisah perenungan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

“Pohon sukun bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta,” jelas Siti. “Di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya,” sambungnya.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak tidak hanya menghasilkan karya seni berupa terrarium, tetapi juga memahami nilai-nilai penting seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, hingga kemampuan berimajinasi. Menurut Siti, seluruh proses dalam menyusun lapisan batu, tanah, hingga tanaman memiliki filosofi yang relevan dengan dunia kerja.

“Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian. Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari,” ungkap Siti.

Ia menceritakan bahwa saat proses pembuatan, tahap menyusun batu kerikil menjadi gambaran tantangan dalam organisasi maupun pekerjaan. “Saya ingin membuat susunan batu seperti tangga, tetapi batunya tidak selalu nurut. Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan,” tuturnya. “Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik,” sambungnya.

Di sisi lain, kegiatan ini dinilai mampu menjadi sarana penyegaran di tengah rutinitas pekerjaan. “Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja. Dengan meluangkan waktu sejenak, kita bisa membangun semangat baru untuk kembali menjalankan tugas,” kata Siti.

Salah seorang peserta, Vidya Palupi, menyampaikan rasa antusiasmenya. Ia mengaku awalnya mengira membuat terrarium adalah hal yang mudah karena sering melihat hasil-hasil cantik di media sosial. Namun, saat praktik langsung, proses pembuatannya ternyata cukup menantang.

“Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang aja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya,” ujar Vidya. “Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial,” sambungnya.

Vidya berharap kegiatan literasi kreatif dapat lebih sering diselenggarakan karena memberikan suasana berbeda di tengah rutinitas. “Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat. Kegiatan ini juga sesuai dengan namanya, menambah kreativitas kami,” ungkapnya.

Acara ini turut dihadiri oleh Deputi Bidang Administrasi sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi MPR RI, Heri Herawan; Pustakawan Ahli Madya, Yusniar; serta sejumlah pejabat eselon III, eselon IV, pejabat fungsional, dan pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI. Founder Terramori, Valentino Putra Budiman, juga hadir untuk membimbing langsung pelatihan kerajinan tersebut.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar