Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mulai berlaku pada 7 April 2026 belum mampu meredakan ketegangan di kawasan Teluk. Alih-alih menunjukkan tanda-tanda penghentian permusuhan, kedua negara justru terus terlibat dalam aksi saling serang yang memicu kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan damai tersebut.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, perselisihan terbaru dipicu oleh tindakan Amerika Serikat yang dituding Iran telah melanggar gencatan senjata. Teheran mengecam Washington setelah menyerang sebuah kapal tanker minyak milik Iran yang tengah bergerak dari perairan pesisir di wilayah Jask menuju Selat Hormuz. Serangan juga dilaporkan menyasar kapal lain yang melintas di seberang Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip televisi pemerintah, Iran menyebut Amerika Serikat juga melancarkan serangan di titik lain di wilayah selatan. Teheran menuding Washington bertindak dengan melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut.
Sebagai bentuk balasan, komando pusat militer Iran mengonfirmasi bahwa pasukannya telah menyerang kapal-kapal perang Amerika Serikat. Langkah ini disebut sebagai respons langsung atas apa yang dianggap Iran sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, kantor berita Iran, Fars, melaporkan bahwa beberapa ledakan terdengar di dekat kota Bandar Abbas. Hingga saat ini, asal dan lokasi pasti suara ledakan tersebut masih belum dapat dipastikan. Investigasi awal Fars mengindikasikan adanya baku tembak antara angkatan bersenjata Iran dan pihak yang disebut sebagai "musuh", dengan bagian komersial dermaga di Pulau Qeshm pulau terbesar di Teluk menjadi sasaran.
Sementara itu, kantor berita Tasnim juga mengonfirmasi suara ledakan di dekat Pulau Qeshm dan Bandar Abbas. Meski belum ada informasi pasti, beberapa sumber menyebutkan bahwa suara tersebut berkaitan dengan operasi Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tengah memperingatkan sejumlah kapal tentang pelayaran tidak sah melalui Selat Hormuz.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di ibu kota Teheran, menurut media lokal. Hingga berita ini diturunkan, Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait situasi yang terus memanas tersebut.
Artikel Terkait
Mardani Ali Sera Kritik Sikap PDIP yang Tolak RUU Pemilu Jadi Inisiatif Pemerintah
Polri Bekuk 321 WNA Pelaku Judi Online di Markas Tersembunyi Hayam Wuruk
Brimob dan Polsek Pamulang Amankan Remaja yang Hendak Balap Liar di Jalan Kemiri
Kritik Tajam Warnai Rilis 162 Dokumen UFO Pentagon, Dinilai Jadi Pengalih Isu Kasus Epstein