Stasiun Gambir, pagi itu, hiruk-pikuknya beda dari biasanya. Bukan karena liburan atau arus mudik, melainkan karena kekacauan. Sejumlah perjalanan kereta api dari stasiun ini harus tertunda atau istilah kerennya, delay imbas kecelakaan antara KRL dan Argo Bromo di perlintasan Bekasi Timur. Akibatnya, banyak penumpang yang akhirnya memilih menarik tiket dan beralih ke moda transportasi lain. Ada yang naik pesawat, ada juga yang mungkin cari alternatif lain.
Di antara mereka ada Citra, seorang penumpang tujuan Yogyakarta. Usianya 31 tahun. Ia tampak kesal, dan siapa yang nggak? Ia seharusnya berangkat dengan KA Batavia pukul 09.35 WIB. Tapi sampai jam menunjukkan pukul 11.15 WIB, tak ada kepastian kapan keretanya akan jalan.
"Enggak ada info sama sekali," katanya, dengan nada yang sudah pasti jengkel. "Saya cek di Instagram, bukan kereta saya yang bermasalah. Makanya saya tetap datang. Tapi sampai jam 11.15 WIB belum juga jalan."
Citra berdiri di area Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (28/4/2026) saat ia menceritakan hal itu.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk membatalkan perjalanan keretanya. Dan bukan cuma batal, ia langsung memesan tiket pesawat untuk keberangkatan esok hari.
"Saya langsung putuskan naik pesawat saja besok. Daripada buang-buang waktu seharian di sini, apalagi saya ada urusan kerjaan di Jogja," ucapnya, singkat.
Kisah serupa juga dialami Anya, penumpang KA Mataram. Umurnya 20 tahun. Ia seharusnya berangkat pukul 21.40 WIB malam sebelumnya. Tapi apa daya, kereta tak kunjung diberangkatkan. Ia sudah duduk di dalam gerbong selama hampir tiga jam, menunggu.
"Sudah masuk ke keretanya dari jam 9 malam. Nunggu di dalam gerbong sekitar 2 sampai 3 jam, tapi kok enggak jalan-jalan. Akhirnya jam 12 malam baru dikasih tahu kalau dibatalkan perjalanannya," cerita Anya.
Baru pada tengah malam itu ia mengerti penyebabnya: kecelakaan antara kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
"Baru dapat informasinya kayak waktu lagi nunggu keretanya jalan, tapi tahu-tahu ya ada kecelakaan jadinya harus batalin," sebutnya.
Nggak menyerah, Anya kemudian memesan tiket lagi untuk keberangkatan pagi ini, pukul 09.30 WIB. Tapi lagi-lagi, kereta yang sama mengalami keterlambatan.
"Hari ini pesan lagi, tapi delay juga. Seharusnya sih jam 09.30 WIB," tuturnya.
Anya bilang, ia harus kembali ke Jogja untuk mengikuti kelas perkuliahan. Karena itu, jika perjalanan kereta yang dipesannya hari ini dibatalkan lagi, ia sudah punya rencana cadangan: naik pesawat.
"Kalau batal lagi sih kayaknya kalau beneran perlu banget sih naik pesawat sih, kalau beneran perlu banget," ujarnya, agak berulang-ulang seperti orang yang sedang berpikir keras. "Memang seharusnya ada kelas hari ini, jadi saya harus itu dulu, izin enggak masuk jadinya," lanjutnya.
Di sisi lain, suasana di loket Stasiun Gambir cukup ramai. Dari pantauan di lokasi, antrean penumpang yang ingin membatalkan tiket mengular. Petugas di loket pun mengonfirmasi: bagi kereta yang terdampak keterlambatan lebih dari 60 menit, penumpang berhak mendapatkan pengembalian bea 100 persen. Setidaknya itu sedikit kabar baik di tengah kekacauan ini.
Artikel Terkait
Taksi Tertemper Kereta di Perlintasan Tanpa Palang, Picu Tabrakan Beruntun di Stasiun Bekasi Timur
Estonia Dorong Transformasi Maritim Berkelanjutan, Tawarkan Teknologi Retrofitting dan Pelabuhan Pintar ke Indonesia
Prabowo Setujui Pembangunan Flyover di Bekasi Usai Tabrakan Maut Kereta Api, 14 Tewas
Konflik Timur Tengah Ancam Harga Kondom Global, Produsen Terbesar Dunia Peringatkan Potensi Kenaikan 30 Persen