Pemerintah Mali akhirnya angkat bicara. Mereka mengonfirmasi kabar duka yang sudah beredar sebelumnya: Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas. Kejadiannya setelah rumahnya diserbu di tengah gelombang serangan yang terkoordinasi rapi. Kelompok pemberontak, termasuk afiliasi al-Qaeda di Afrika Barat, disebut-sebut sebagai dalang di balik aksi ini.
Peristiwa nahas itu terjadi di Kati, sebuah kota yang berjarak sekitar 15 kilometer di utara ibu kota Bamako. Lokasinya juga merupakan pangkalan utama militer Mali. Menurut pernyataan resmi pemerintah, seorang pelaku bom bunuh diri mengendarai mobil yang sudah dipenuhi bahan peledak. Mobil itu menerobos masuk ke kediaman Camara.
Juru bicara pemerintah, Issa Ousmane Coulibaly, menjelaskan situasi di lokasi kejadian. "Baku tembak pecah setelah insiden itu," katanya. Camara sendiri sempat mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia di sana.
Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama dua hari.
Serangan Serentak di Banyak Titik
Nah, ini yang menarik. Serangan ini bukan cuma satu atau dua lokasi. Afiliasi regional al-Qaeda, yang dikenal dengan nama Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), disebut-sebut bekerja sama dengan kelompok pemberontak Tuareg, yaitu Front Pembebasan Azawad (FLA). Mereka melancarkan serangan serentak di lebih dari setengah lusin tempat di seluruh negeri.
Pemerintah sendiri belum mau menyebutkan angka pasti korban jiwa. Coulibaly hanya menyampaikan belasungkawa bagi seluruh korban, baik sipil maupun militer. Angkanya? Masih misteri.
Namun, menurut para analis dan diplomat yang memantau situasi, operasi pada Sabtu itu dinilai sebagai salah satu serangan terkoordinasi paling besar di Mali dalam beberapa tahun terakhir. Bayangkan saja, serangan terjadi di Kati, dekat bandara Bamako, dan juga di wilayah utara seperti Mopti, Sevare, dan Gao.
Menanggapi hal ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) angkat bicara. Mereka menyerukan respons internasional untuk menghadapi kekerasan dan terorisme yang meningkat di kawasan Sahel, Afrika Barat. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan serangan di berbagai lokasi di Mali dan mengecam keras aksi kekerasan tersebut.
Kidal, Kota yang Diperebutkan
Lalu bagaimana dengan Kidal? Kota strategis yang dulu jadi basis kuat FLA ini nasibnya masih abu-abu. FLA dengan lantang menyatakan Kidal sudah jatuh ke tangan mereka. Juru bicara kelompok itu bahkan mengklaim sudah ada kesepakatan untuk membiarkan tentara bayaran Rusia keluar dari kamp yang terkepung di luar kota. Di kamp itu, pasukan bersenjata Mali masih bertahan.
Tapi, pihak militer Mali punya cerita lain. Kepala Staf Militer Mali, Jenderal Oumar Diarra, menyebut apa yang dilakukan pasukannya hanya reposisi taktis. "Operasi di kawasan itu masih berlangsung," tegasnya. Jadi, siapa yang benar? Masih tanda tanya besar.
Pukulan Telak bagi Rusia
Di sisi lain, serangan ini jelas jadi pukulan berat bagi Rusia. Selama ini, Moskow menjadi pendukung utama pemerintahan militer Mali, terutama setelah negara itu mengusir pasukan Prancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat lainnya.
Media pemerintah Rusia melaporkan, personel Africa Corps Rusia bersama Garda Presiden Mali dan pasukan bersenjata berhasil menahan serangan besar militan. Mereka juga mengklaim berhasil mencegah istana presiden direbut. Namun, disebutkan juga bahwa beberapa personel Rusia mengalami luka-luka.
Serangan Sabtu lalu ini menjadi sinyal terbaru bahwa pemerintah Mali belum mampu menghadirkan keamanan yang lebih baik. Padahal, mereka sebelumnya sudah berjanji akan melakukan hal itu. Ironis, memang.
Ingat, pada September 2024, JNIM juga pernah menyerang sekolah pelatihan polisi paramiliter dekat bandara Bamako. Sekitar 70 orang tewas saat itu. Belakangan, kelompok yang sama juga melancarkan blokade bahan bakar yang menyebabkan krisis listrik dan pasokan di ibu kota.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Mali bahkan sempat menuding negara-negara tetangga dan kekuatan asing mendukung kelompok teroris. Namun, ia tidak menyebutkan nama negara yang dimaksud. Semakin rumit saja situasinya.
Artikel Terkait
KRL Tertabrak Kereta Jarak Jauh di Stasiun Bekasi Timur, Penumpang Panik dan Berlarian
Mensos Gus Ipul Puji Dedikasi Tagana di HUT ke-22: Garda Terdepan yang Harus Cepat dan Tepat dalam Penanganan Bencana
Kejagung Silakan Terdakwa Korupsi Chromebook Buktikan Tuduhan Intimidasi di Persidangan
Kereta Api Jarak Jauh Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, Sejumlah Penumpang Terluka