Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hingga minggu pertama Juni menunjukkan bahwa produk pangan hortikultura masih menjadi komoditas dengan fluktuasi harga yang tinggi. Dua di antaranya, cabai dan bawang merah, mencatatkan peningkatan jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH secara signifikan.
Meski demikian, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengajak publik untuk tidak semata-mata menyoroti harga di tingkat konsumen. Menurutnya, kondisi petani hortikultura di Indonesia juga perlu menjadi pertimbangan utama.
“Seperti cabai yang agak tinggi mungkin karena distribusi. Tapi ingat, cabai terkadang harganya Rp80.000 sampai Rp100.000, tapi terkadang juga harganya jatuh. Jadi, berilah kesempatan ke petani cabai supaya recovery, modalnya kembali,” ujar Amran dalam sebuah telekonferensi di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Kondisi tersebut turut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) cabai yang digelar Bapanas bersama Kementerian Pertanian dan berbagai asosiasi pada 10 Juni 2026. Dalam forum itu, Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) melaporkan bahwa harga Cabai Merah Keriting (CMK) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). Petani cabai di DIY yang tengah memasuki masa panen raya CMK hanya memperoleh harga sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Padahal, pemerintah telah menetapkan HAP untuk CMK di tingkat petani pada rentang Rp22.000 hingga Rp29.600 per kilogram. Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mengupayakan penstabilan harga, baik di hulu maupun hilir. Ia menekankan pentingnya mendorong harga di tingkat petani agar kembali ke level yang wajar.
“Dari informasi para champion, petani cabai maupun bawang merah, pasokan relatif stabil. Tidak banyak, tapi tidak terlalu kurang. Kita mengupayakan penstabilan harga. Artinya, jangan terlalu murah, kita sepakat ke arah yang wajar sehingga harga nyaman bagi petani,” tutur Ketut.
Ia menambahkan, jika harga di tingkat petani berada di bawah HAP, pemerintah harus turun tangan. “Tentu kita harus dorong untuk mendekati HAP atau minimal di atas HAP sedikit, sehingga petani tidak dirugikan. Jangan sampai kita minta harganya turun terus, ternyata produktivitas rendah. Kasihan petani kita. Jadi harus kita wajarkan,” ujarnya.
Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah mobilisasi stok cabai dari daerah yang mengalami surplus akibat panen raya ke daerah-daerah yang harga cabainya masih berfluktuasi. Pemerintah terus membangun keterhubungan kebutuhan ini secara integral.
“Papua, Papua Selatan, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Kepulauan Riau, Gorontalo, Papua Barat, dan Sulawesi Tenggara masih di atas HAP. Ini adalah potensi yang bisa kita dorong panen cabai merah keriting ke wilayah-wilayah tersebut,” kata Ketut.
Di sisi lain, untuk Cabai Rawit Merah (CRM), terjadi penurunan produktivitas akibat anomali cuaca dan serangan hama atau penyakit. Namun, pemerintah optimistis harga akan berangsur turun seiring adanya peningkatan produksi secara bertahap.
“Dengan kondisi sekarang, mudah-mudahan dengan informasi dari teman-teman champion yang terus berproduksi, ke depan harga sudah mulai agak relatif menurun sedikit,” ujar Ketut.
Deputi Bapanas itu juga memastikan kondisi pasokan hortikultura di Pasar Induk Keramat Jati (PIKJ) masih relatif bagus. Ia optimistis penurunan harga dapat mulai terjadi pada bulan Juni ini. “Pasokan di PIKJ, baik bawang merah maupun cabai, semua cabai relatif masih bagus. Tentu harganya masih agak di atas HAP, tapi mudah-mudahan dalam bulan Juni bisa mulai menurun,” katanya.
Keyakinan ini didasarkan pada proyeksi produksi CRM yang mulai meningkat. Dalam Proyeksi Neraca Pangan, produksi CRM secara nasional pada Juni diperkirakan mencapai 113,8 ribu ton. Angka tersebut diprediksi akan meningkat pada Juli hingga mencapai 144,7 ribu ton.
Artikel Terkait
Pembengkakan Titik Dapur MBG Tembus 6.877 Unit, Negara Boros Rp1 Triliun per Bulan
BMKG: Seluruh Wilayah Jakarta Cerah Berawan pada Jumat, Suhu Mencapai 34 Derajat Celcius
15 Unit Damkar Dikerahkan Padamkan Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru
Polisi Papua Imbau Pedagang Tak Timbun MinyaKita, Pasokan 90.000 Liter Tiba di Jayapura