Di sisi lain, pembicaraan tak cuma berkutat pada jalan dan jembatan. AHY juga menyentuh soal karakter. Pembentukan jiwa kepemimpinan sejak dini, baginya, sama pentingnya.
"Kepemimpinan itu sangat berharga," tegasnya.
Setiap orang, lanjut AHY, harus bisa memimpin. Dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga, hingga lingkungan yang lebih luas. Kepemimpinan bukan cuma soal jabatan atau titel. Ini soal tanggung jawab dan kemampuan untuk memberi dampak positif di mana pun kita berada.
Lalu, bagaimana caranya mengasah itu? AHY punya saran konkret: berorganisasi. Ia mendorong para siswa untuk aktif di dalamnya.
"Melalui organisasi, kita belajar tanggung jawab. Belajar kerja sama. Dan yang utama, belajar mengambil peran untuk berkontribusi," tambahnya.
Pengalaman itu akan jadi bekal berharga. Bukan cuma untuk membentuk karakter, tapi juga menyiapkan mereka menghadapi dinamika zaman yang penuh tantangan.
Menutup audiensi, AHY terlihat mengapresiasi ragam cita-cita para siswa. Ada yang bercita-cita jadi tentara, arsitek, pengusaha, hingga psikolog. Keragaman minat ini justru ia lihat sebagai potensi besar. Sebuah modal berharga untuk membangun Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan ke depannya.
Dalam pertemuan tersebut, AHY tidak sendirian. Ia didampingi oleh Tenaga Ahli Bidang Kerja Sama Internasional, Mira Permatasari.
Artikel Terkait
Polda Maluku Terbitkan Surat Perintah Bawa untuk Oknum Jaksa Tersangka Penipuan
Prabowo dan Macron Bahas Kerja Sama Strategis dalam Pertemuan di Paris
Tim SAR Evakuasi 109 Warga Terdampak Banjir Bandar Lampung
Wamen Dalam Negeri Tekankan Sinergi Pusat-Daerah untuk Dongkrak Ekonomi Lampung